Events

Mahasiswa UMN Gelar Pameran Edukasi Mitigasi Bencana di SMAN 1 Bayah

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact TEA Hamburger Toggle Menu DONATE events Mahasiswa UMN Gelar Pameran Edukasi Mitigasi Bencana di SMAN 1 Bayah Tanggal Rilis: 01 Juni 2026 | 20:10 Lokasi: Tangerang  Penulis: Steven Eduard TANGERANG, 1 Juni 2026 – Sebanyak 70 siswa SMA Negeri 1 Bayah bersiap mengikuti kegiatan pameran edukasi mitigasi bencana bertajuk “Sawala Lembur” pada Rabu, 10 Juni 2026 mendatang. Kegiatan ini merupakan inisiatif mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang tengah melaksanakan Humanity Project di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Selain menghadirkan pameran edukatif, acara ini akan dikemas dengan konsep interaktif guna meningkatkan kesiapsiagaan generasi muda terhadap potensi bencana di kawasan pesisir selatan Banten. Penyelenggara kegiatan, Gina Fajriatien Nisa, mengatakan bahwa Sawala Lembur dirancang sebagai ruang belajar kreatif untuk memperkuat literasi kebencanaan sejak dini. “Dalam pameran edukasi ini, kami juga mengadakan talkshow yang bertujuan meningkatkan pengetahuan serta kesiapsiagaan, khususnya para siswa dalam menghadapi bencana di wilayah pesisir Banten Selatan,” ujar Gina dalam keterangannya, Senin (1/6/2026). Terdapat tiga agenda utama yang akan dihadirkan dalam pameran tersebut, yaitu peluncuran Buku Katalog Rambu Evakuasi Berbasis Kearifan Lokal, edukasi siaga bencana melalui media board game, serta talkshow interaktif mengenai kebencanaan. Menurut Gina, inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah serta sejumlah pegiat mitigasi bencana setempat, termasuk Abah Lala, pendiri Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS). GMLS sendiri merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang aktif membangun kemandirian warga dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami di wilayah pesisir Banten Kidul. Dukungan dari pihak sekolah mengemuka dalam audiensi antara tim mahasiswa UMN dengan Kepala SMAN 1 Bayah, Asep Darma Mulya, yang didampingi Pembina Pramuka, Nahrudin, serta Pembina Palang Merah Remaja (PMR), Nanang. Kepala SMAN 1 Bayah, Asep Darma Mulya, menyambut positif agenda ini. Menurutnya, edukasi kebencanaan merupakan kebutuhan mendesak bagi pelajar yang tinggal di wilayah rawan. “Kegiatan ini sangat baik. Belum pernah ada sebelumnya pameran yang mengangkat tema mitigasi bencana di sekolah kami. Karena itu, kami tentu mendukung penuh pelaksanaannya,” ungkap Asep. Secara terpisah, Gina menilai pendekatan melalui pameran dan simulasi game jauh lebih efektif dan menarik bagi siswa ketimbang metode ceramah satu arah. Sebagai wilayah yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, pesisir selatan Kabupaten Lebak memang memiliki kerentanan tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami. Kondisi geografis inilah yang mendasari pentingnya membangun budaya siaga sejak usia sekolah. Apresiasi serupa datang dari para pembina Pramuka dan PMR SMAN 1 Bayah. Mereka menilai nilai-nilai kesiapsiagaan dan kepedulian sosial dalam gerakan “Sawala Lembur” sejalan dengan penguatan karakter siswa di organisasi mereka. Melalui media edukasi yang interaktif, para peserta nantinya diajak mengenali risiko di lingkungan sekitar serta langkah-langkah pengurangan risiko bencana yang dapat diterapkan sehari-hari. Untuk memperluas jangkauan informasi, kegiatan Sawala Lembur ini juga didukung oleh Dewan Pimpinan Daerah Komite Wartawan Reformasi Indonesia (DPD KWRI) Provinsi Banten dan radio Panorama FM. Melalui kolaborasi ini, diharapkan pameran “Sawala Lembur” mampu melahirkan generasi muda yang lebih mawas diri, tanggap darurat, dan aktif membangun budaya siaga bencana di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas. __ Tentang Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS)Didirikan pada 13 Oktober 2020, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) adalah organisasi komunitas yang berdedikasi pada upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) berbasis masyarakat. Berpusat di kawasan pesisir Kabupaten Lebak, Banten, GMLS aktif mendorong program literasi mitigasi, kesiapsiagaan komunitas, dan pembentukan ekosistem desa yang tangguh terhadap ancaman gempa dan tsunami. Kontak Media Steven EduardMedia Relations ManagerGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. ‪+62 852-6011-2525Email: gugusmitigasibaksel@gmail.com Admin: Dayah Fata FadillahGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. +62 858-8820-0600 Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Mahasiswa UMN Gelar Pameran Edukasi Mitigasi Bencana di SMAN 1 Bayah Read More »

Direktur GMLS, Abah Lala, Raih Liputan 6 Awards 2026 Kategori Keberlanjutan: “Pengurangan Risiko Bencana Adalah Rekonstruksi Peradaban”

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact TEA Hamburger Toggle Menu DONATE events Direktur GMLS, Abah Lala, Raih Liputan 6 Awards 2026 Kategori Keberlanjutan: “Pengurangan Risiko Bencana Adalah Rekonstruksi Peradaban” Tanggal Rilis: 25 Mei 2026 | 18:10 Lokasi: Jakarta   Penulis: Steven Eduard JAKARTA, 25 Mei 2026 — Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) dengan bangga mengumumkan bahwa Direktur GMLS, Anis Faisal Reza atau yang akrab disapa Abah Lala, telah menerima penghargaan bergengsi *Liputan 6 Awards 2026* untuk kategori Sustainability (Keberlanjutan). Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan nasional atas dedikasi dan inisiatif nyata GMLS dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami megathrust di kawasan pesisir Lebak, Banten. Momen penganugerahan tersebut turut dihadiri oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU), Bapak Dodi Hanggodo, yang menyerahkan trofi secara langsung kepada Abah Lala. Dalam pidato kemenangannya, Abah Lala menyoroti realitas di lapangan yang ia temukan selama lebih dari satu dekade bergerak di bidang kebencanaan. Ia menegaskan bahwa upaya mitigasi jauh lebih kompleks daripada sekadar mempersiapkan fisik bangunan atau jalur evakuasi. “Baru 11 tahun saya berkecimpung di dunia pengurangan risiko bencana. Tapi ternyata yang saya temukan, pengurangan risiko bencana itu tidak sederhana. Belajar berlindung dari gempa, tas siaga bencana, atau mempersiapkan tempat evakuasi—kami menemukan banyak hal yang lebih dalam. Kami menemukan banyak kerentanan di sana; ada problem literasi, pendidikan, ekonomi, sosial, infrastruktur, hingga perlindungan kelompok rentan dan anak-anak. Sehingga pada akhirnya kami menyimpulkan, pengurangan risiko bencana sejatinya adalah rekonstruksi peradaban kita sendiri,” ujar Abah Lala. Gerakan akar rumput yang diinisiasi oleh Abah Lala bersama tim GMLS di Desa Panggarangan berfokus pada pendekatan yang komprehensif. Mulai dari diskusi kampung, simulasi evakuasi, hingga edukasi di sekolah-sekolah, masyarakat diajak untuk mengenali tanda-tanda alam dan merespons sistem peringatan dini secara mandiri. Upaya kolektif ini sebelumnya juga telah mendapatkan pengakuan internasional dari UNESCO melalui program Tsunami Ready, yang membuktikan bahwa kesadaran kesiapsiagaan yang kuat dapat dan harus dibangun dari tingkat desa. Merespons pidato dan pencapaian GMLS, Menteri Pekerjaan Umum, Dodi Hanggodo, menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus komitmen nyata dari pemerintah pusat. Beliau menyatakan kesiapan Kementerian PU untuk berkolaborasi dan memberikan dukungan penuh dalam penyediaan infrastruktur tahan gempa. “Kami banyak membangun shelter dan beberapa bangunan yang lebih tahan gempa. Jika di area Bapak atau di tempat lain di seluruh negeri membutuhkan dukungan dari kami untuk menyiapkan shelter evakuasi manakala diperlukan nantinya, insyaallah bisa kontak saya atau tim, dan kami akan bantu,” tegas Bapak Dodi Hanggodo. GMLS berharap penganugerahan Liputan 6 Awards ini tidak hanya menjadi perayaan bagi masyarakat Lebak Selatan, tetapi juga mampu menjadi katalisator semangat yang menginspirasi 5.700 desa rawan tsunami lainnya di seluruh Indonesia untuk terus bergerak, beredukasi, dan membangun ketangguhan bersama. — Tentang Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS)Didirikan pada 13 Oktober 2020, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) adalah organisasi komunitas yang berdedikasi pada upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) berbasis masyarakat. Berpusat di kawasan pesisir Kabupaten Lebak, Banten, GMLS aktif mendorong program literasi mitigasi, kesiapsiagaan komunitas, dan pembentukan ekosistem desa yang tangguh terhadap ancaman gempa dan tsunami. Kontak Media Steven EduardMedia Relations ManagerGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. ‪+62 852-6011-2525Email: gugusmitigasibaksel@gmail.com Admin: Dayah Fata FadillahGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. +62 858-8820-0600 Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Direktur GMLS, Abah Lala, Raih Liputan 6 Awards 2026 Kategori Keberlanjutan: “Pengurangan Risiko Bencana Adalah Rekonstruksi Peradaban” Read More »

Belajar Mitigasi Sambil Bermain, Safari Kampung Hadir di Empat Wilayah Lebak Selatan

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact TEA Hamburger Toggle Menu DONATE events Belajar Mitigasi Sambil Bermain, Safari Kampung Hadir di Empat Wilayah Lebak Selatan Tanggal Rilis: 20 Mei 2026 | 12:53 Lokasi: = Kampung Cimangpang, Panggarangan, Cikumpay, & Ciwaru Penulis: Steven Eduard LEBAK – Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) kembali menyelenggarakan kegiatan Safari Kampung di empat wilayah berbeda di Lebak Selatan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran siaga bencana sejak usia dini. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari berturut-turut dengan durasi sekitar dua jam di setiap lokasi, yaitu di Kampung Cimangpang pada Jumat (09/05/2026) pukul 08.00 WIB, Desa Panggarangan pada Sabtu (10/05/2026) pukul 08.00 WIB, Kampung Cikumpay pada Minggu (11/05/2026) pukul 16.00 WIB, serta Kampung Ciwaru pada Senin (12/05/2026) pukul 16.00 WIB. Safari Kampung merupakan bagian dari inisiative Community Resilience yang berfokus membangun ketangguhan masyarakat pesisir terhadap risiko bencana alam. Melalui pendekatan belajar berbasis permainan, anak-anak diajak mengenal mitigasi bencana dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami. Pembelajaran Mitigasi Lewat Permainan Dalam setiap kegiatan, peserta diperkenalkan pada pengetahuan dasar mitigasi bencana, mulai dari pentingnya kesiapsiagaan, mengenal situasi darurat, hingga langkah sederhana yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana. Materi kemudian diperkuat melalui berbagai permainan interaktif yang dirancang untuk meningkatkan partisipasi anak-anak. Permainan “Siaga Kata” menjadi salah satu aktivitas utama dalam Safari Kampung. Anak-anak diajak menyusun berbagai kata yang berkaitan dengan kebencanaan dan kesiapsiagaan dalam waktu terbatas. Permainan ini melatih kecepatan berpikir, kerja sama tim, serta membantu peserta mengenal istilah penting terkait mitigasi bencana. Selain itu, peserta juga mengikuti “Game Konsentrasi” yang mengajak anak-anak fokus mengikuti instruksi sambil mengingat berbagai informasi terkait kebencanaan. Suasana belajar menjadi lebih hidup karena anak-anak aktif bergerak, tertawa, dan saling menyemangati selama permainan berlangsung. Kegiatan semakin meriah dengan permainan “Goa Ular”, permainan kelompok yang melatih koordinasi, keberanian, serta kerja sama antar peserta. Melalui pendekatan permainan ini, materi mitigasi disampaikan secara ringan tanpa mengurangi nilai pembelajaran yang ingin diberikan kepada anak-anak. Antusiasme Anak-anak dan Dukungan Warga Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Anak-anak aktif mengikuti permainan, menjawab pertanyaan, hingga berebut kesempatan untuk berpartisipasi dalam setiap sesi. Suasana penuh tawa dan semangat terasa di setiap lokasi kegiatan Safari Kampung. “Kegiatan seperti ini membuat anak-anak lebih senang belajar karena dikemas lewat permainan. Mereka jadi lebih mudah memahami tentang siaga bencana,” ujar salah satu fasilitator kegiatan di lokasi. Safari Kampung sendiri menjadi salah satu bentuk pendekatan edukasi kebencanaan berbasis komunitas yang terus dikembangkan oleh Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) di wilayah pesisir Lebak Selatan. Melalui metode belajar yang interaktif dan menyenangkan, kegiatan ini diharapkan dapat membantu membangun generasi muda yang lebih sadar bencana, tangguh, dan siap menghadapi situasi darurat di masa depan. Backgrounders Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana. Setelah mendampingi Desa Panggarangan meraih status Tsunami Ready Community dari IOC–UNESCO, GMLS berencana melanjutkan program serupa di sejumlah desa pesisir lain di Lebak Selatan dalam waktu dekat. Kontak Media Steven EduardMedia Relations ManagerGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. ‪+62 852-6011-2525Email: gugusmitigasibaksel@gmail.com Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Belajar Mitigasi Sambil Bermain, Safari Kampung Hadir di Empat Wilayah Lebak Selatan Read More »

Rumah MARIMBA Hadir di Empat Lokasi, Perkuat Literasi dan Edukasi Tas Siaga Bencana bagi Anak-anak

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact TEA Hamburger Toggle Menu DONATE events Rumah MARIMBA Hadir di Empat Lokasi, Perkuat Literasi dan Edukasi Tas Siaga Bencana bagi Anak-anak Tanggal Rilis: 20 Mei 2026 | 12:42 Lokasi: = Kampung Panggarangan, Nagajaya, Situregen, & Bayah Barat Penulis: Steven Eduard LEBAK – Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) kembali menyelenggarakan kegiatan literasi dan edukasi mitigasi bencana melalui program Rumah Mari Membaca (MARIMBA) di empat lokasi berbeda di wilayah Lebak Selatan. Kegiatan dilaksanakan selama empat hari berturut-turut dengan durasi dua jam di setiap lokasi, yaitu di Kampung Panggarangan pada Jumat (09/05/2026) pukul 15.00 WIB, Kampung Nagajaya pada Sabtu (10/05/2026) pukul 15.00 WIB, Situregen pada Minggu (11/05/2026) pukul 09.00 WIB, serta Bayah Barat pada Senin (12/05/2026) pukul 15.00 WIB. Kegiatan Rumah MARIMBA kali ini mengangkat storytelling bertema “Siaga Caah Laut” yang berfokus pada edukasi kesiapsiagaan bencana, khususnya mengenai barang-barang penting yang perlu dibawa di dalam tas siaga bencana ketika terjadi situasi darurat. Cerita yang digunakan berasal dari buku dongeng karya Humanity Project batch sebelumnya yang dikemas secara interaktif dan mudah dipahami oleh anak-anak. Pentingnya Edukasi Mitigasi Sejak Dini Melalui sesi storytelling, anak-anak diajak mengenal berbagai perlengkapan penting yang harus tersedia di dalam tas siaga bencana, seperti pakaian, obat-obatan, senter, peluit, makanan instan, hingga uang. Anak-anak juga diajak memahami fungsi dari setiap barang melalui pendekatan cerita dan diskusi ringan yang menyenangkan. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan minat baca anak-anak, tetapi juga membangun kesadaran mitigasi bencana sejak usia dini. Dengan pendekatan yang partisipatif, Rumah MARIMBA menjadi ruang belajar yang hangat dan interaktif bagi anak-anak di wilayah Lebak Selatan. Games Interaktif dan Antusiasme Anak-anak Selain sesi membaca cerita, kegiatan juga dilengkapi dengan berbagai permainan seru dan aktivitas kelompok yang membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan. Anak-anak mengikuti kuis berhadiah, permainan mengenal isi tas siaga bencana, serta berbagai tantangan interaktif lainnya yang melatih kerja sama dan keberanian mereka. Peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Anak-anak aktif menjawab pertanyaan, berebut kesempatan membaca cerita, hingga bersemangat mengikuti permainan bersama para relawan dan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan. Kolaborasi Bersama Mahasiswa Humanity Project Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang tergabung dalam Humanity Project turut berpartisipasi dalam mendampingi jalannya kegiatan di setiap lokasi. Kehadiran mahasiswa memberikan suasana belajar yang lebih dekat, hangat, dan interaktif bagi anak-anak peserta Rumah MARIMBA. “Kegiatan seperti ini membuat anak-anak senang belajar sambil bermain. Mereka jadi lebih semangat datang ke MARIMBA,” ujar bu solihah (fasilitator). Rumah MARIMBA sendiri merupakan salah satu program Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) yang berfokus pada penguatan literasi dan edukasi mitigasi bencana bagi anak-anak di wilayah Lebak Selatan. Melalui kegiatan yang rutin dilaksanakan di berbagai kampung, Rumah MARIMBA diharapkan dapat membantu membangun generasi muda yang lebih tangguh, sadar bencana, serta memiliki budaya literasi sejak dini. Backgrounders Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana. Setelah mendampingi Desa Panggarangan meraih status Tsunami Ready Community dari IOC–UNESCO, GMLS berencana melanjutkan program serupa di sejumlah desa pesisir lain di Lebak Selatan dalam waktu dekat. Kontak Media Steven EduardMedia Relations ManagerGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. ‪+62 852-6011-2525Email: gugusmitigasibaksel@gmail.com Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Rumah MARIMBA Hadir di Empat Lokasi, Perkuat Literasi dan Edukasi Tas Siaga Bencana bagi Anak-anak Read More »

Perkuat Literasi Media, FIKOM UMN Ajak Mahasiswa dan Masyarakat Lebih Kritis terhadap Hoaks

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact TEA Hamburger Toggle Menu DONATE events Perkuat Literasi Media, FIKOM UMN Ajak Mahasiswa dan Masyarakat Lebih Kritis terhadap Hoaks Tanggal Rilis: 12 Mei 2026 | 10:47 Lokasi: = Villa Hejo Kiarapayung Penulis: Steven Eduard PANGGARANGAN – Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (FIKOM UMN) menyelenggarakan kegiatan International Community Engagement bertajuk “Equipping Students and Society to Spot Misinformation” bersama dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) di Panggarangan, Lebak, Banten. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi internasional yang membahas pentingnya literasi media, critical thinking, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali misinformasi di era digital. Acara yang berlangsung di Panggarangan, Sabtu (09/5/2026), dihadiri langsung oleh Prof. Masato Kajimoto yang dikenal aktif dalam kajian media literacy dan misinformation studies. Kehadirannya menegaskan bahwa kolaborasi dengan komunitas akar rumput seperti GMLS bukan sekadar aktivitas pelengkap, melainkan bagian strategis dari visi akademis. Pentingnya Literasi Media Dalam sambutannya, Anis Faisal Reza menyampaikan bahwa edukasi mengenai misinformasi menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi masyarakat dan generasi muda yang hidup di tengah derasnya arus informasi digital terutama saat terjadi bencana. “Kegiatan seperti ini memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya memilah informasi dan tidak mudah percaya terhadap berita yang belum terverifikasi dan saat terjadi kebencanaan,” ujar Anis. Sementara itu, FX Lilik Dwi Mardjianto, Ph.D. menegaskan bahwa literasi media saat ini bukan lagi sekadar kemampuan tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat. “Di era digital, masyarakat dituntut untuk lebih kritis dan bertanggung jawab terhadap informasi yang mereka konsumsi maupun sebarkan. Karena itu, kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan sosial saat ini,” ujarnya. Diskusi Interaktif Bersama Prof. Masato Kajimoto Dalam sesi utama, Prof. Masato Kajimoto membahas bagaimana misinformasi dapat berkembang dengan cepat melalui media sosial serta pentingnya proses Fact-Check sebelum membagikan informasi. Peserta terlihat antusias mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab yang membahas berbagai fenomena hoaks, tantangan media digital, hingga peran generasi muda dalam situasi bencana. Kolaborasi Akademisi dan Masyarakat Andy Firmansyah, M.M.T. menyampaikan bahwa kegiatan International Community Engagement menjadi bagian dari komitmen UMN dalam membangun kolaborasi berkelanjutan bersama masyarakat. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang belajar bersama antara mahasiswa, akademisi, dan masyarakat untuk menciptakan dampak sosial yang nyata,” ujarnya. Kegiatan ini juga dihadiri oleh jajaran dosen dan staf Universitas Multimedia Nusantara, di antaranya Irwan Fakhruddin, M.I.Kom., Dr. Kristina Nurhayati, Veronika Kaban, M.Si., Theresia Lolita, M.I.Kom., Adestya Ayu Armelia, M.Si.Par., serta Wirawan Istiono, M.Kom. Melalui kegiatan ini, GMLS  berharap dapat terus mendorong penguatan literasi media, membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap misinformasi, serta mempererat kolaborasi antara institusi pendidikan dan masyarakat dalam menghadapi tantangan komunikasi digital di masa depan. Backgrounders Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana. Setelah mendampingi Desa Panggarangan meraih status Tsunami Ready Community dari IOC–UNESCO, GMLS berencana melanjutkan program serupa di sejumlah desa pesisir lain di Lebak Selatan dalam waktu dekat. Kontak Media Steven EduardMedia Relations ManagerGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. ‪+62 852-6011-2525Email: gugusmitigasibaksel@gmail.com Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Perkuat Literasi Media, FIKOM UMN Ajak Mahasiswa dan Masyarakat Lebih Kritis terhadap Hoaks Read More »

Rawat Kolaborasi, GMLS-UMN Perpanjang Kerja Sama Mitigasi Berbasis Masyarakat

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact TEA Hamburger Toggle Menu DONATE events Rawat Kolaborasi, GMLS-UMN Perpanjang Kerja Sama Mitigasi Berbasis Masyarakat Tanggal Rilis: 14 April 2026 | 22:04 Lokasi: = Villa Hejo Kiarapayung Penulis: Steven Eduard PANGGARANGAN – Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) resmi memperpanjang komitmen kolaborasi mereka dalam penguatan mitigasi bencana. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terbaru ini menandai babak baru setelah berakhirnya masa berlaku kerja sama periode sebelumnya, dengan fokus yang lebih tajam pada integrasi ilmu sosial dan teknologi. Kembali Acara yang berlangsung di Panggarangan, Senin (13/4/2026), dihadiri langsung oleh Rektor UMN, Ir. Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D. Kehadirannya menegaskan bahwa kolaborasi dengan komunitas akar rumput seperti GMLS bukan sekadar aktivitas pelengkap, melainkan bagian strategis dari visi akademis. Solusi Atas Keterbatasan Direktur GMLS, Anis Faisal Reza, mengungkapkan bahwa perjalanan lima tahun terakhir telah membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya di lapangan dapat diatasi melalui strategi kolaborasi. Perpanjangan MoU ini menjadi dasar hukum untuk melanjutkan proyek ambisius “Kiara Payung Nusantara”. “Kami memiliki banyak cita-cita besar untuk mitigasi di wilayah ini, namun sumber daya yang diperlukan sangat berat. Kolaborasi ini adalah solusi nyata atas keterbatasan tersebut,” ujar Anis. Bagi GMLS, perpanjangan kerja sama ini sangat krusial mengingat lembaga ini tengah mengembangkan jejaring dengan lebih dari 40 mitra, termasuk rencana kolaborasi internasional dengan University of Bonn dan tim riset dari Jepang terkait sistem peringatan dini gempa (Earthquake Early Warning System). Sentuhan Ilmu Sosial dan Teknologi Hal unik dalam kolaborasi ini adalah keterlibatan aspek ilmu sosial yang cukup kuat, sebuah langkah yang disebut jarang terjadi dalam diskursus mitigasi bencana yang biasanya didominasi oleh sains eksakta. Irwan Fakhruddin, perwakilan dari Program Studi Strategic Communication UMN, mencatat bahwa pendekatan ini mendapat apresiasi dari UNESCO. “Sepanjang UNESCO bekerja di Indonesia, baru UMN yang terlibat di ranah ilmu sosial untuk isu ini. Ternyata pendekatannya sangat strategis,” ungkapnya. Di sisi lain, aspek teknis tetap dikawal melalui keterlibatan Fakultas Teknik Informatika. Dr. Eng. Niki Prastomo menjelaskan bahwa mahasiswa akan dilibatkan dalam menciptakan solusi teknologi yang kontekstual dengan kebutuhan di Lebak Selatan. Keberlanjutan di Lapangan Rektor UMN, Andrey Andoko, menekankan bahwa kunci dari mitigasi yang tangguh adalah sistem yang tidak hanya berbasis teknologi tinggi, tetapi juga berakar pada kebutuhan masyarakat. Dengan perpanjangan MoU ini, kedua belah pihak berkomitmen untuk terus menciptakan sistem mitigasi yang inklusif di wilayah Bayah dan sekitarnya. Bagi mahasiswa, ini adalah laboratorium hidup; bagi warga Lebak Selatan, ini adalah jaminan keberlanjutan dukungan akademis untuk keselamatan mereka di masa depan. Backgrounders Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana. Setelah mendampingi Desa Panggarangan meraih status Tsunami Ready Community dari IOC–UNESCO, GMLS berencana melanjutkan program serupa di sejumlah desa pesisir lain di Lebak Selatan dalam waktu dekat. Kontak Media Steven EduardMedia Relations ManagerGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. ‪+62 852-6011-2525Email: gugusmitigasibaksel@gmail.com Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Rawat Kolaborasi, GMLS-UMN Perpanjang Kerja Sama Mitigasi Berbasis Masyarakat Read More »

Menghidupkan Kembali “Bayah Dikumbah”: Ikhtiar Pemuda Adat Menjaga Napas Mitigasi di Lebak Selatan

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact TEA Hamburger Toggle Menu DONATE events Menghidupkan Kembali “Bayah Dikumbah”: Ikhtiar Pemuda Adat Menjaga Napas Mitigasi di Lebak Selatan Tanggal Rilis: 14 April 2026 | 16:20 Lokasi: = Villa Hejo Kiarapayung Penulis: Anis Faisal Reza PANGGARANGAN – Masyarakat di pesisir Bayah, Kabupaten Lebak, kini tengah menggali kembali memori kolektif dan kearifan leluhur untuk menghadapi ancaman nyata megathrust di selatan Banten. Melalui inisiatif Indigenous School for Disaster Preparedness, pengetahuan lokal mulai diintegrasikan dengan sains modern sebagai fondasi ketangguhan bencana berbasis komunitas. Dalam lokakarya dan dialog masyarakat yang digelar di Villa Hejo Kiarapayung, Minggu (12/4/2026), sebanyak 30 perwakilan pemuda, siswa, dan mahasiswa berkumpul untuk merumuskan ulang strategi mitigasi. Kegiatan ini lahir dari amanah program Indigenous Youth Fellowship 2026 dari Cultural Survival. Siklus Alam dan Bebendon Direktur Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS), Anis Faisal Reza, menekankan pentingnya narasi “Bayah Dikumbah” sebagai pengingat kolektif masyarakat akan potensi tsunami. Menurutnya, dalam perspektif budaya Sunda, bencana bukan sekadar fenomena geofisika, melainkan bagian dari cakramanggilingan atau siklus kehidupan. “Dalam tradisi Sunda, bencana atau bebendon terjadi ketika manusia mulai melupakan nilai-nilai peradaban,” ujar Anis. Pendekatan budaya ini dinilai krusial karena mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang sering kali luput dari solusi teknokratis. Hal ini sejalan dengan pandangan Dr. Herry Yogaswara dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyatakan bahwa pengetahuan lokal harus dipraktikkan secara konsisten, bukan sekadar menjadi artefak sejarah. Ia mencontohkan konsep Smong di Simeulue sebagai bukti keberhasilan mitigasi berbasis tutur. Sains dan Kesiapan ” Golden Time” Meski berbasis kearifan lokal, dimensi ilmiah tetap menjadi pilar utama. H. Asep Mulya Hidayat menyoroti krusialnya pemanfaatan golden time—waktu sempit yang tersedia bagi warga untuk menyelamatkan diri sesaat setelah gempa terjadi sebelum tsunami menerjang. Langkah konkret dari pertemuan ini tidak berhenti pada diskusi semata. Para peserta menyepakati penyusunan modul pembelajaran mitigasi bencana berbasis kearifan lokal yang khusus dirancang bagi anak-anak usia dini (TK dan SD). Penanggungjawab kegiatan, Sucia Lisdamara, menegaskan bahwa keterlibatan pemuda adat adalah kunci keberlanjutan. “Kesempatan ini adalah kepercayaan untuk membawa suara dan kekuatan pengetahuan masyarakat Bayah ke ruang pembelajaran yang lebih luas,” ungkapnya. Upaya ini mempertegas bahwa di Lebak Selatan, kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada sirine atau teknologi pemantau, tetapi pada seberapa kuat masyarakat menjaga warisan leluhur sebagai navigasi keselamatan masa depan. Tentang Gugus Mitigasi Lebak Selatan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) merupakan sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang mitigasi bencana sebagai bentuk kemanusiaan di daerah Lebak Selatan, Banten. Didirikan pada tahun 2020, GMLS hadir sebagai wujud kepedulian masyarakat lokal terhadap ancaman bencana alam, khususnya tsunami. Dengan visi “Masyarakat Lebak Selatan yang Siaga dan Tangguh Menghadapi Potensi Bencana Alam, GMLS melaksanakan berbagai kegiatan berkaitan dengan program Tsunami Ready dan Community Resilience. Hingga saat ini, GMLS telah mencatat berbagai pencapaian, salah satunya membantu Desa Panggarangan meraih status “Tsunami Ready Community” dari IOC-UNESCO, dan menjadi pionir dalam upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana di wilayah Banten. Untuk informasi lebih lanjut, mohon kunjungi www.gmls.org atau @gugusmitigasibaksel. Admin: Dayah Fata FadillahGugus Mitigasi Lebak SelatanTelp. +62 858-8820-0600   Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Menghidupkan Kembali “Bayah Dikumbah”: Ikhtiar Pemuda Adat Menjaga Napas Mitigasi di Lebak Selatan Read More »

Teater “Murka Sang Caah Laut” Sukses Edukasi Mitigasi Tsunami untuk Siswa SD melalui Seni Pertunjukan

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE events Teater “Murka Sang Caah Laut” Sukses Edukasi Mitigasi Tsunami untuk Siswa SD melalui Seni Pertunjukan Tanggal Rilis: 9 Juni 2025 | 16:00 Lokasi: Lebak, Banten Penulis: Kezia Margaretha, Michelle Shannon Garot Lebak, 27 Mei 2025 – Pertunjukan teater edukatif “Murka Sang Caah Laut” berhasil memperkenalkan konsep mitigasi bencana tsunami kepada 128 siswa SDN 2 Situregen, Lebak Selatan, melalui pendekatan seni pertunjukan yang inovatif. Kolaborasi Lintas Institusi Acara yang berlangsung pada 26-27 Mei 2025 ini merupakan puncak dari program Generasi Mitigasi Bencana (GEMINA), hasil kolaborasi antara Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) melalui Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi MBKM Humanity Project Batch VI Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dengan menggandeng Relawan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Situregen. Cerita yang Mengedukasi “Murka Sang Caah Laut” mengisahkan kebangkitan monster tsunami yang dikenal dalam bahasa Sunda sebagai “caah laut” (banjir laut). Melalui petualangan empat siswa yang diselamatkan oleh karakter SIGEMI (peta ajaib), pertunjukan ini mengajarkan: Ciri-ciri datangnya tsunami Langkah-langkah penyelamatan diri Persiapan menghadapi bencana alam Partisipasi Aktif Pertunjukan melibatkan 14 pemeran, terdiri dari: 4 mahasiswa UMN: Sandya Pradayan, Sidra Shabirah, Dylan Ervian, Yvest Tanno 8 siswa SDN 2 Situregen: Sela Aulia, Dio Arka, Rahmi Barokatul, Siti Aisah, Sofhwatun Nadia, Tatang Hidayat, Raihan, Dzikro Aufar 2 relawan DESTANA: Deni Apriatna, Resti Agustini Respon Positif Tuti Ahyanah, guru SDN 2 Situregen, menyatakan: “Seni pertunjukan yang baru saja diadakan hari ini menunjukkan kalau teater sangat efektif sebagai cara belajar.” Seorang relawan DESTANA menambahkan: “Melalui pertunjukan ini, anak-anak jadi lebih paham, fokus, dan melihat pendidikan sebagai sesuatu yang menghibur.” Visi ke Depan Kezia Margaretha Chandra, sutradara pertunjukan, berharap: “Edukasi dapat menerapkan pendekatan audio-visual seperti media sosial agar anak-anak melihat edukasi sebagai sesuatu yang menyenangkan.” Acara ini dihadiri 128 siswa, 7 guru SDN 2 Situregen, 12 relawan DESTANA, dan 6 orang tua siswa, menunjukkan antusiasme tinggi komunitas lokal terhadap inovasi pendidikan mitigasi bencana. Tentang Gugus Mitigasi Lebak Selatan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) merupakan sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang mitigasi bencana sebagai bentuk kemanusiaan di daerah Lebak Selatan, Banten. Didirikan pada tahun 2020, GMLS hadir sebagai wujud kepedulian masyarakat lokal terhadap ancaman bencana alam, khususnya tsunami. Dengan visi “Masyarakat Lebak Selatan yang Siaga dan Tangguh Menghadapi Potensi Bencana Alam, GMLS melaksanakan berbagai kegiatan berkaitan dengan program Tsunami Ready dan Community Resilience. Hingga saat ini, GMLS telah mencatat berbagai pencapaian, salah satunya membantu Desa Panggarangan meraih status “Tsunami Ready Community” dari IOC-UNESCO, dan menjadi pionir dalam upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana di wilayah Banten. Untuk informasi lebih lanjut, mohon kunjungi www.gmls.org atau @gugusmitigasibaksel. Kontak Media Yvest Tanno Media Relations Manager Gugus Mitigasi Lebak Selatan Telp. +62 895-1880-6387 Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Teater “Murka Sang Caah Laut” Sukses Edukasi Mitigasi Tsunami untuk Siswa SD melalui Seni Pertunjukan Read More »

Pelatihan PETA SIAGA: Guru sebagai Agen Mitigasi Bencana di Desa Situregen

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE events Pelatihan PETA SIAGA: Guru sebagai Agen Mitigasi Bencana di Desa Situregen Tanggal Rilis: 9 Juni 2025 | 15:00 Lokasi: Lebak, Banten Penulis: Debora Priscilla, Yvest Tanno Lebak, 24 Mei 2025 – Dalam upaya memperkuat pemahaman kebencanaan di lingkungan pendidikan, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) bersama mahasiswa Humanity Project Batch VI Universitas Multimedia Nusantara sukses menyelenggarakan Pelatihan Guru Mitigasi Bencana: PASIAGANA – PETA SIAGA di MTs Mathla’ul Anwar, Desa Situregen, Kecamatan Panggarangan, Lebak, Banten pada Sabtu, 24 Mei 2025. Acara pelatihan ini mengangkat tema “PETA SIAGA: Siap Hadapi Bencana” dan diikuti oleh 21 orang guru dari berbagai sekolah di Desa Situregen. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan guru-guru terhadap bencana alam, khususnya gempa bumi dan tsunami yang berpotensi tinggi terjadi di wilayah pesisir selatan Banten. “Kami ingin guru-guru menjadi garda terdepan dalam mengedukasi siswa tentang kesiapsiagaan bencana. Setelah pelatihan ini, mereka diharapkan mampu meneruskan informasi penting ini kepada para siswa dengan cara yang mudah dan aplikatif,” ujar Debora Priscilla, pembawa acara sekaligus salah satu anggota tim PASIAGANA. Pengenalan Jalur Evakuasi Salah satu sesi utama dalam pelatihan ini adalah “Pengenalan Jalur Evakuasi dari Sekolah MTs Mathla’ul Anwar” yang memungkinkan para guru mengenal lebih dalam simbol, warna, jalur evakuasi, serta konsep TES (Tempat Evakuasi Sementara) dan TEA (Tempat Evakuasi Akhir). Para guru juga diajak menggambar langsung jalur evakuasi dari sekolah menuju titik kumpul, mewarnai zona berbahaya, serta membaca simbol pada peta. Aktivitas ini dirancang menyenangkan, agar guru juga dapat meniru pendekatan serupa saat mengajar siswa. Aktivitas Menyenangkan & Edukatif Para guru juga terlibat dalam aktivitas praktik pembuatan jalur evakuasi dengan mewarnai peta, melabeli zona rawan, serta menandai rambu-rambu evakuasi. Kegiatan dikemas secara menyenangkan agar materi dapat diserap dengan lebih mudah.  Materi Peluit & Simulasi Bunyi Tanda Bahaya Selain materi peta, para guru juga mendapatkan edukasi mengenai penggunaan peluit sebagai alat komunikasi darurat saat bencana. Tim fasilitator mengajarkan kode tiupan peluit.  Para guru juga mengikuti simulasi langsung membunyikan peluit sesuai dengan skenario keadaan darurat untuk melatih respon cepat dan koordinasi saat evakuasi. Praktik Pengajaran Kembali oleh Guru Setelah mendapatkan materi, para guru dilibatkan dalam sesi pelatihan praktik, dimana para guru diminta menjelaskan ulang materi peta evakuasi kepada teman-teman dari Humanity Project yang berperan sebagai siswa. Dalam kelompok kecil, guru mensimulasikan bagaimana mereka akan menyampaikan topik seperti: pengertian peta dan peta evakuasi, arti simbol dan warna pada peta, dan rambu-rambu evakuasi. Sesi ini bertujuan untuk memastikan pemahaman menyeluruh, serta melatih cara penyampaian agar siswa bisa menerima informasi dengan cara yang menyenangkan dan mudah dicerna. Sebagai bagian dari sesi ini, para guru juga diajak untuk menonton video dokumentasi penelusuran jalur evakuasi dari MTs Mathla’ul Anwar menuju titik kumpul akhir. Video ini memberikan gambaran visual nyata tentang rute evakuasi, kondisi medan, lokasi titik istirahat, hingga rambu-rambu evakuasi yang telah dipasang. Dengan menonton video tersebut, para guru mendapatkan pemahaman lebih konkret dan kontekstual mengenai jalur evakuasi di lingkungan sekolah mereka, sehingga dapat menyampaikan informasi tersebut dengan lebih meyakinkan kepada siswa. Modul Pengajaran untuk Siswa Setelah mengikuti pelatihan, guru tidak hanya membawa pulang pengalaman, tetapi juga memperoleh modul literasi peta berisi materi terstruktur untuk disampaikan kembali kepada siswa. Modul ini memuat penjelasan peta evakuasi, contoh simbol, simulasi, dan panduan pengajaran menyenangkan yang disesuaikan dengan jenjang sekolah. Materi Pelatihan  Materi pelatihan disampaikan oleh Irwan Fakhruddin, S.Sn., M.I.Kom., anggota National Tsunami Ready Board. Selain itu, mahasiswa Teknik Elektro UMN memperkenalkan sistem sirine peringatan dini yang dirancang sebagai bagian dari inovasi lokal untuk Desa Situregen. “Harapan kami, pelatihan ini tidak berhenti di satu hari saja. Guru-guru yang hadir bisa menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing dan membentuk rantai edukasi yang berkelanjutan,” tutur Jesslyn Tjandra Kristanto, Project Manager PASIAGANA. Pelatihan ini ditutup dengan post-test, sesi refleksi, serta pembagian sertifikat partisipasi dan souvenir menarik. Kegiatan ini merupakan bagian dari Humanity Project, program tugas akhir kolaboratif Fakultas Ilmu Komunikasi UMN yang bermitra dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan dan didukung oleh Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Desa Situregen. Dengan adanya pelatihan PETA SIAGA, Desa Situregen diharapkan makin siap menghadapi bencana, dimulai dari ruang kelas dan semangat para pendidik.   Tentang Gugus Mitigasi Lebak Selatan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) merupakan sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang mitigasi bencana sebagai bentuk kemanusiaan di daerah Lebak Selatan, Banten. Didirikan pada tahun 2020, GMLS hadir sebagai wujud kepedulian masyarakat lokal terhadap ancaman bencana alam, khususnya tsunami. Dengan visi “Masyarakat Lebak Selatan yang Siaga dan Tangguh Menghadapi Potensi Bencana Alam, GMLS melaksanakan berbagai kegiatan berkaitan dengan program Tsunami Ready dan Community Resilience. Hingga saat ini, GMLS telah mencatat berbagai pencapaian, salah satunya membantu Desa Panggarangan meraih status “Tsunami Ready Community” dari IOC-UNESCO, dan menjadi pionir dalam upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana di wilayah Banten. Untuk informasi lebih lanjut, mohon kunjungi www.gmls.org atau @gugusmitigasibaksel. Kontak Media Yvest Tanno Media Relations Manager Gugus Mitigasi Lebak Selatan Telp. +62 895-1880-6387 Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Pelatihan PETA SIAGA: Guru sebagai Agen Mitigasi Bencana di Desa Situregen Read More »

Humanity Project GMLS dengan UMN di Lebak Selatan Resmi Ditutup: 25 Mahasiswa Berkolaborasi untuk Mitigasi Bencana

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE events Humanity Project GMLS dengan UMN di Lebak Selatan Resmi Ditutup: 25 Mahasiswa Berkolaborasi untuk Mitigasi Bencana Tanggal Rilis: 5 Juni 2025 | 13:00 Lokasi: Lebak, Banten Penulis: Michelle Shannon Garot Lebak, 28 Mei 2025 – Setelah berjalan selama empat bulan, program Humanity Project hasil kolaborasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) resmi berakhir pada akhir Mei 2025. Sebanyak 25 mahasiswa lintas jurusan terlibat langsung dalam proyek berbasis edukasi dan teknologi untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan tsunami. Dimulai sejak Februari 2025, Humanity Project telah menggelar tiga gelombang kunjungan lapangan, masing-masing selama 10 hari, di berbagai wilayah di Lebak Selatan—seperti Kampung Cipurun, Nagajaya, Panggarangan, Bayah, dan sekitarnya. Mahasiswa tinggal dan bekerja langsung bersama masyarakat, mengembangkan program berbasis edukasi seni, teknologi, literasi anak, hingga pelatihan guru. Program ini melibatkan mahasiswa dari jurusan Ilmu Komunikasi, Teknik Elektro, Informatika, dan Sistem Informasi UMN. Karya dari Humanity Project ini antara lain: Festival karya seni GEMINA yang melibatkan 150 siswa SD dalam lomba mewarnai, pertunjukan teater, dan kegiatan seni lainnya yang mengedukasi anak-anak tentang mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami; “Sang Ombak Raksasa”, sebuah video musik edukasi mitigasi bencana tsunami yang dibuat bersama warga dan siswa Situregen; Video Musik “Sang Ombak Raksasa” dapat disaksikan di kanal YouTube Gugus Mitigasi Lebak Selatan. Rumah MARIMBA 3 di Kampung Cipurun, pusat literasi anak yang menyimpan buku aktivitas, board game kebencanaan, dan dokumentasi lokal; PASIAGANA, pelatihan mitigasi untuk 21 guru agar menjadi agen perubahan di sekolah-sekolah zona merah; Instalasi sistem peringatan dini tsunami (Early Warning System) di SMAN 1 Bayah dan Masjid Al-Ittihad Cisiih, berbasis LoRa–ESP32. Program ini mendapat sambutan positif dari warga dan mitra lokal. Ibu Entin Rohmiati, Wakil Kepala SDN 2 Situregen menyebutkan, “Kolaborasi ini sangat bermanfaat. Anak-anak belajar sambil bermain, dan guru-guru pun mendapat perspektif baru tentang mitigasi.” “Saya baru pertama kali ikut pelatihan mitigasi seperti ini. Sekarang saya lebih tahu bagaimana menenangkan anak-anak saat gempa terjadi,” tambah Enok Liska Listiyani, guru MTS Cisiih, peserta PASIAGANA. Humanity Project menjadi wujud nyata dari visi GMLS untuk membangun masyarakat Lebak Selatan yang siaga dan tangguh menghadapi bencana alam, serta mendukung misi GMLS dalam mengembangkan edukasi kebencanaan, menjalin kemitraan lintas sektor, dan membangun jejaring komunitas responsif. Dengan menggabungkan kekuatan pemuda, teknologi, dan pendekatan berbasis budaya lokal, proyek ini memperkuat pondasi mitigasi yang inklusif dan berkelanjutan.   Tentang Gugus Mitigasi Lebak Selatan Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) merupakan sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang mitigasi bencana sebagai bentuk kemanusiaan di daerah Lebak Selatan, Banten. Didirikan pada tahun 2020, GMLS hadir sebagai wujud kepedulian masyarakat lokal terhadap ancaman bencana alam, khususnya tsunami. Dengan visi “Masyarakat Lebak Selatan yang Siaga dan Tangguh Menghadapi Potensi Bencana Alam, GMLS melaksanakan berbagai kegiatan berkaitan dengan program Tsunami Ready dan Community Resilience. Hingga saat ini, GMLS telah mencatat berbagai pencapaian, salah satunya membantu Desa Panggarangan meraih status “Tsunami Ready Community” dari IOC-UNESCO, dan menjadi pionir dalam upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana di wilayah Banten. Untuk informasi lebih lanjut, mohon kunjungi www.gmls.org atau @gugusmitigasibaksel. Kontak Media Yvest Tanno Media Relations Manager Gugus Mitigasi Lebak Selatan Telp. +62 895-1880-6387 Kembali Share this Events Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Humanity Project GMLS dengan UMN di Lebak Selatan Resmi Ditutup: 25 Mahasiswa Berkolaborasi untuk Mitigasi Bencana Read More »

Shopping Cart