Uncategorized

Apa itu Mitigasi?

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Apa itu Mitigasi? Tanggal Rilis: 17 Jan 2023 | 19:00 Tags: Mitigasi Penulis: Monika Gian Asti Seperti yang sudah kita pelajari sejak kecil. Secara geografis, Indonesia berada di wilayah yang rawan bencana alam. Sepanjang tahun 2022, Indonesia tak lepas dari berbagai bencana alam. Menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), setidaknya ada 22 gempa bumi yang melanda sepanjang tahun 2022. Sayangnya tidak semua masyarakat di seluruh daerah Indonesia paham dengan apa yang harus dilakukan ketika dihadapkan pada situasi bencana. Kebanyakan dari mereka justru panik. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan eduksi soal mitigasi bencana kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Maka dari itu, mitigasi bencana menjadi hal penting yang bisa membantu kita untuk mengurangi kerugian bencana alam. Salah satu cara mengurangi kerugian bencana alam adalah dengan mengadakan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya mitigasi bencana. Namun, apa arti sebenarnya mitigasi bencana itu? Menurut laman resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemerintah Kabupaten Bogor, Jumat, (6/1/2023). Mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana. Bisa dikatakan, mitigasi bencana adalah segala upaya mulai dari pencegahan sebelum suatu bencana terjadi, sampai dengan penanganan usai suatu bencana terjadi. Hal terkait mitigasi juga diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2007. Undang-Undang tersebut juga memuat definisi tentang mitigasi. Menurut UU 24 Tahun 2007, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi bencana sering kali dikaitkan dalam teori persepsi risiko. Dilansir dari Kumparan (6/1/2023) teori persepsi risiko merupakan teori yang berpandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh persepsinya masing-masing. Mudahnya, semua tindakan kita akan ditentukan oleh sudut pandang kita sendiri. Berkaitan dengan teori tersebut, jika kita mempunyai persepsi risiko atau tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap bencana alam. Alhasil kita menyadari suatu bencana alam berisiko untuk diri kita, maka kita akan lebih mudah untuk mengubah perilaku kita dan mempersiapkan diri akan bencana alam yang akan datang. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Apa itu Mitigasi? Read More »

Indonesia Perlu Berkaca Pada Banda

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Indonesia Perlu Berkaca Pada Banda Tanggal Rilis: 15 Jan 2023 | 09:00 Tags: Tsunami, Mitigasi Penulis: Nisrina Khairunnisa “Daerah Aceh tanoh loh sayang, ni bak teumpat nyan loen udep mate.” Kiranya, sepenggal lirik lagu tersebut mendeskripsikan kecintaan, kerelaan, kepemilikan dan kenyamanan Tanoh keuneubak, indatu moyang, Aceh. Daerah yang terletak di ujung barat Sumatera ini, tak ubahnya bak seorang gadis cantik yang tak bosan diperbincangkan, mungkin juga diperebutkan. Mulai dari masa kesultanan, syariat islam, kegigihan melawan penjajah, perannya memberi modal bagi Republik Indonesia di awal kemerdekaan, dinamika politik, tsunami, bahkan yang terbaru ialah statusnya sebagai provinsi termiskin di pulau keenam terbesar di dunia yang terletak di Indonesia, dengan luas 473.481 km². Baik buruknya patut disyukuri, menjadi semangat serta harapan untuk memperbaiki daerah berjuluk ‘Serambi Mekkah’ itu. Karena sejatinya, sejarah tidak perlu diperdebatkan tapi dimaknakan untuk perbaikan di masa depan bagi kaum yang ingin merubah nasibnya. Aceh berhasil membuktikan kepada dunia bahwa kehancuran di atas permukaan tanah Banda Aceh lantas tidak serta merta menghancurkan semangat warganya untuk mengelola kembali sumber daya yang masih tersisa. Setelah tsunami Aceh 2004, bencana mulai dibicarakan, didiskusikan, dicari jalan keluar untuk kegiatan mitigasi sehingga melahirkan UU No. 24 2007 tentang penanggulangan bencana dan semua peraturan perundangan turunannya, maka garis besar ruang lingkup penyelenggaraan penanggulangan bencana terangkum menjadi: 1. Semua upaya penanggulangan bencana yang dilakukan pada saat pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana2. Penitikberatan upaya-upaya yang bersifat preventif pada pra bencana3. Pemberian kemudahan akses bagi badan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat4. Pelaksanaan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pada pasca bencana. Aceh termasuk termasuk wilayah yang sangat rawan terhadap bencana, salah satunya adalah gempa yang dapat mengakibatkan gelombang tinggi. Banyak temuan ilmiah yang memastikan keberulangan bencana gelombang tinggi tersebut, meskipun pakar atau ahli sehebat apapun tidak akan pernah bisa memprediksi kapan dan dimana bencana tersebut akan terjadi. Apabila menyinggung masalah mitigasi dan keterkaitannya dengan bencana, pola pikir masyarakat masih sangat mainstream yaitu bencana terjadi dikarenakan fenomena alam dan diserahkan kepada kuasa Tuhan sehingga banyak masyarakat yang cenderung pasrah tanpa memikirkan cara penanggulangan jangka panjang yang dapat dilakukan. Istilah mitigasi mencuat dan popular di Indonesia setelah terjadinya bencana besar yang melanda negeri ini. Beberapa lembaga negara non kementerian dibentuk untuk menangani kasus bencana sebelum, pada saat dan setelah terjadinya bencana tersebut. Salah satunya adalah Tsunami And Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala. TDMRC juga berkontribusi meningkatkan masyarakat yang tahan bencana, berkolaborasi dengan para peneliti dan lembaga riset lainnya dalam riset-riset kebencanaan. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Indonesia Perlu Berkaca Pada Banda Read More »

Mengangkat Peran Mahasiswa Dalam Isu Kebencanaan

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Mengangkat Peran Mahasiswa Dalam Isu Kebencanaan Tanggal Rilis: 14 Jan 2023 | 18:00 Tags: GMLS, UMN, Humanity Project Penulis: Nisrina Khairunnisa Seseorang yang mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi disematkan status sebagai ‘mahasiswa’. Mahasiswa terbentuk dari kata maha dan siswa. Asal kata maha berasal dari bahasa Sansekerta dengan arti yang hampir sama dengan KBBI, yaitu ‘sangat’, ‘besar’, atau ‘mulia’. Sedangkan siswa menurut KBBI, adalah ‘murid’ atau ‘pelajar’ yang berarti sosok pembelajar yang giat mempelajari ilmu pengetahuan. Perlu pemaknaan yang cukup matang untuk dapat memahami kata tersebut secara utuh. Sebab, mengemban titel ‘mahasiswa’ menjadi suatu tanggung jawab yang tidak mudah. Selain dituntut untuk menjadi cendekiawan, mahasiswa juga memiliki beberapa peran yang tidak bisa lepas dari kontribusinya di lingkup sosial. Fungsi mahasiswa sangat dibutuhkan masyarakat umum khususnya bagi Bangsa Indonesia yang tingkat pendidikannya masih tergolong rendah. Dikutip dari databoks.katadata.co.id, ada sekitar 6% penduduk Indonesia yang sudah mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini terbilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan masyarakat Indonesia. Menurut data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), penduduk Indonesia berjumlah 275,36 juta jiwa pada Juni 2022. Dari pangkalan data tersebut, sumber daya manusia dengan potensi dan kualitas berdasarkan tingkat pendidikan masih perlu menjadi bahan evaluasi yang mesti ditilik kembali oleh petinggi di negara ini. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri ialah dengan meningkatkan kemampuan dan kelebihan yang telah dipelajari agar pantas untuk dijadikan panutan serta teladan bagi masyarakat luas. Tentu hal ini akan semakin memotivasi generasi muda untuk bertekad menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin. Saat ini, peran mahasiswa menjadi harapan besar untuk kebangkitan suatu negara khususnya Indonesia yang merupakan negara dengan kekayaan budaya dan intelektual. Indonesia dengan segudang isu yang masih terus bergulir memerlukan sosok – sosok pembelajar yang peduli dan cinta terhadap tanah kelahirannya. Satu dari sekian isu yang tak kalah penting untuk dijadikan pembahasan saat ini ialah isu kebencanaan. Belakangan, alam sudah ‘tak tahu malu’ untuk menunjukkan kegarangannya kepada manusia. Bencana secara beruntun terjadi membengkakkan mata manusia yang terdampak di wilayah rawan terjadi tragedi yang cukup merugikan para makhluk hidup. Kebanyakan dari mereka pasrah atas apa yang menjadi kehendak Sang Maha Kuasa. Namun, perlu diketahui bahwa musibah yang menimpa manusia akibat kondisi alam ini seharusnya masih bisa diatasi atau minimal dikurangi dampak buruknya. Bencana alam yang sering muncul di bumi pertiwi merupakan keniscayaan yang harus diterima oleh seluruh warga berkebangsaan Indonesia. Fakta geografis Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo Australia dan Lempeng Pasifik menjadikan Indonesia sebagai kawasan Cincin Api Pasifik. Kondisi ini memicu seringnya gempa bumi dan letusan gunung berapi di sekitaran wilayah cincin api. Hal inilah yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara paling rawan bencana. Tidak bisa dimungkiri bahwa realita di depan mata ini menjadi tantangan besar Bangsa Indonesia, khususnya bagi generasi masa depan yang akan memegang kendali di negeri ini. Kontribusi Penting Mahasiswa Sebagai agent of change atau agen perubahan yang dapat mengundang respon aksi dari berbagai kalangan mulai dari kaum tua hingga anak muda, mahasiswa merupakan golongan yang bisa diandalkan untuk mempengaruhi khalayak. Kontribusi dari pelajar di jenjang pendidikan tinggi yang memiliki keahlian mendalam di berbagai bidang ini sudah sepantasnya menjadi sumber potensial untuk bangkit bersama – sama memecahkan permasalahan. Tak sampai disitu, peran mahasiswa juga diperuntukan untuk mencari solusi terbaik dalam penanganan persoalan bencana mulai dari konsep mitigasi dan resiliensi bencana sehingga proses rekonstruksi pasca bencana lebih mudah terkendali. Seperti halnya yang dilakukan Idzma Mahayattika pada 2004, tatkala ia masih berstatus mahasiswa. Ia dengan rasa kepeduliannya terhadap kegiatan kemanusiaan kala itu mendaftarkan diri ke beberapa komunitas dan institusi kerelawanan hingga akhirnya bergabung bersama Pandu Keadilan dan Relawan Jawa Barat. Ia bertugas sebagai tim SAR dan Rescue untuk membuka jalur ke Meulaboh. Namun setelah sampai disana, Idzma bersama tim diarahkan untuk mendukung tim logistik dan rumah sakit. Sebelumnya, ia sempat melakukan bersih – bersih Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh agar bisa kembali menyelenggarakan sholat jumat pasca tsunami sebagai simbol kebangkitan Aceh. Bersama dengan timnya, Idzma beraksi menjadi relawan di Aceh dengan segala tantangan yang mesti mereka lewati. Salah satunya ialah ketika berada di wilayah konflik. Menurut Idzma, seorang mahasiswa harus bisa peka dengan kondisi sekitarnya dengan mengasah kepekaan sosial di tengah masyarakat dan lingkungan. Mahasiswa memiliki hak istimewa yang sangat berpeluang dengan mudah untuk berkontribusi langsung dengan lingkup sosial, khususnya kebencanaan. Dalam mengikuti proses kerja dalam isu kebencanaan, terdapat beberapa hal yang perlu disiapkan mahasiswa. Idzma membagi kedalam beberapa poin, yaitu: 1. Bergabung dan bekerja sama dengan lembaga profesional agar memiliki dasar arahan yang jelas dan belajar dari mereka yang sudah memiliki pengalaman terdahulu.2. Sadari kemampuan diri sehingga bisa membantu sesuai kapasitas tanpa memaksakan hal – hal yang berada di luar kendali.3. Turut andil dalam memajukan program dengan mengikuti SOP secara terstruktur dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Kolaborasi Menjadi Kunci Dari pengalaman yang disampaikan narasumber sebelumnya, mahasiswa sepatutnya dapat menyadari betapa sakral dan magisnya peran mereka di masyarakat. Dari sekian banyak gelar yang ada dunia, mahasiswalah yang paling memiliki potensi untuk menjangkau ke banyak area. Lengkap dengan kemampuan kompeten yang telah dipelajari dan kelebihan lainnya yang dimiliki generasi muda, tentunya masyarakat Indonesia tidak bisa menutupi fakta bahwa mereka sangat menggantungkan masa depan yang cerah dengan keberadaan mahasiswa yang peduli terhadap bangsanya. Melakukan kolaborasi dengan pihak – pihak ahli akan semakin memperkuat daya juang yang ingin dicapai. Seperti yang dilakukan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara yang memberikan peran sertanya kepada Gugus Mitigasi Lebak Selatan, sebagai lembaga swadaya masyarakat yang sedang memperjuangkan kesadaran warganya untuk lebih aware terhadap isu bencana, keaktifan mahasiswa dalam upaya ini menjadi solusi cerdas yang diinovasikan petinggi akademisi dan praktisi. Mereka saling bersatu padu membangkitkan semangat masyarakat untuk membuka mata lebih lebar terkait adanya potensi bencana di wilayah tempat tinggal mereka. Salah satu kegiatan yang digiatkan para mahasiswa pada momen tersebut adalah memberikan edukasi dan pengetahuan dasar kepada warga setempat tentang karakteristik wilayah dan cara aman berlindung dalam proses evakuasi pada saat terjadi bencana. Mahasiswa yang mendatangi warga mendapatkan sambutan hangat, bahkan masyarakat

Mengangkat Peran Mahasiswa Dalam Isu Kebencanaan Read More »

Kebun Herbal Sebagai Program Resiliensi Bencana

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Kebun Herbal Sebagai Program Resiliensi Bencana Tanggal Rilis: 06 Jan 2023 | 09:00 Tags: Resiliensi Penulis: Delvin Roynaldo Kebun Herbal yang berada di Villa Hejo Kiarapayung merupakan kebun herbal mini yang berada di tengah kebun sawit yang telah menua. Kebun herbal ini digagas oleh Ketua Gugus Mitigasi Lebak Selatan, Anis Faisal Reza. Anis Faisal Reza yang biasa akrab disapa “Abah Lala” memiliki cita-cita yang besar terhadap mitigasi bencana di Lebak Selatan, oleh karena itu ia menginisiasi Gugus Mitigasi Lebak Selatan sebagai salah satu komunitas yang menjalankan program bernama “Piloting Tsunami Ready”. Piloting Tsunami Ready merupakan sebuah program yang berupaya membangun masyarakat yang tangguh melalui strategi kesadaran dan kesiapsiagaan yang akan melindungi kehidupan, mata pencaharian,dan harta benda dari tsunami di berbagai wilayah. Program ini sedang dijalankan di Desa Panggarangan dengan menganut 11 Indikator Tsunami Ready yang dibuat oleh IOC-UNESCO. Salah satu program dari Piloting Tsunami Ready adalah resiliensi bencana, dimana masyarakat nantinya harus memiliki daya lenting dan memiliki kemampuan untuk kembali ke keadaan sebelum terjadinya bencana bahkan dengan keadaan yang lebih baik. Program resiliensi yang akan segera digagas kedepannya adalah program kebun herbal. Program ini memiliki cita-cita dimana nantinya masyarakat di Desa Panggarangan bisa menanam kebun herbal di halaman rumahnya dan disepanjang jalan Cimangpang. “Ya nantinya kebun herbal ini akan menjadi salah satu program resiliensi masyarakat Desa Panggarangan, nantinya akan ada sosialisasi mengenai tanaman herbal, sehingga masyarakat bisa menanam tanaman herbal di rumah mereka dan nantinya diseluruh Jalan Cimangpang juga akan ditanami tanaman herbal” Ungkap Abah Lala saat diwawancarai di Kafe Herbal. Ketertarikan mengenai obat herbal ini diawali dari istri dari Abah Lala yaitu Resti Yuliani atau akrab disapa Teh Resti. Awalnya ia tidak percaya mengenai pengobatan herbal ini, namun akibat pengalaman orang tuanya saat sakit dan sembuh akibat obat ini, ia menjadi tertarik dengan tanaman herbal dan belajar mengenai khasiat tanaman herbal. Saat ini kebun herbal yang berjalan baru ada di Villa Hejo Kiarapayung, Desa Panggarangan. Kebun herbal ini diurus oleh Aki Agus selaku pengurus kebun herbal di Villa Hejo Kiarapayung. Hasil dari kebun herbal tersebut saat ini dimanfaatkan sebagai bahan-bahan dari Obat Herbal (Jamu) yang dibuat oleh Resti Yuliani untuk kebutuhan di Kafe Herbal. Saat ini Kafe Herbal menerima pesanan untuk pasien yang membutuhkan Jamu Herbal untuk keperluan berbagai keluhan penyakit, mulai dari penyakit ringan bahkan penyakit kronis seperti gagal ginjal. Harapan kedepannya program kebun herbal ini bisa menjadi salah satu program resiliensi yang akan berjalan di tahun depan. Untuk saat ini program resiliensi lainnya yang digagas oleh Gugus Mitigasi Lebak Selatan sudah ada dua yang berjalan, yaitu Program Kerajinan Bambu dan Program Budidaya Lebah Trigona. Kedepannya akan ada program kebun herbal dan program pemanfaatan pandan laut sebagai bagian dari program resiliensi yang akan berjalan. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Kebun Herbal Sebagai Program Resiliensi Bencana Read More »

Pendampingan Masyarakat Pesisir Kabupaten Lebak untuk Mencapai Indikator UNESCO-IOC Tsunami Ready Berbasiskan Sains dan Seni

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Pendampingan Masyarakat Pesisir Kabupaten Lebak untuk Mencapai Indikator UNESCO-IOC Tsunami Ready Berbasiskan Sains dan Seni Tanggal Rilis: 07 Dec 2022 | 09:00 Tags: UNESCO-IOC, Tsunami Ready Penulis: Gugus Mitigasi Lebak Selatan Indonesia merupakan wilayah yang sangat berpotensi bencana gempa dan tsunami. Kajian ilmiah dari tim Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dipublikasikan di Scientific Reports pada tahun 2020, menyatakan bahwa pesisir pantai selatan Kabupaten Lebak merupakan salah satu zona berisiko tinggi bencana gempa dan tsunami. Dari hasil pemodelan yang dilakukan menggunakan data Global Positioning System di Pulau Jawa, potensi gempa megathrust dapat mencapai magnitudo 8,9 yang berpotensi memicu tsunami di sepanjang pesisir selatan Jawa. Estimasi tinggi tsunami bahkan mencapai 20 meter. Hasil kajian ini meresahkan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir selatan Kabupaten Lebak, Banten. Salah satu komunitas masyarakat yang peduli dengan kondisi bencana gempa dan tsunami yang dapat berdampak di wilayahnya adalah Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS). Abah Lala, ketua komunitas GMLS ini, menyadari bahwa masyarakat di pesisir selatan Lebak tersebut saat ini tidak memiliki kapasitas yang baik untuk bertindak, bahkan sebelum bencana gempa dan tsunami megathrust tersebut benar-benar datang. Mereka memerlukan dukungan, bimbingan, dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) gempa dan tsunami serta membangun resiliensi di Kabupaten Lebak, Banten. Pada 7 Februari 2021, terjalin komunikasi awal antara GMLS dengan Kelompok Keahlian Geofisika Global (KKGG) Institut Teknologi Bandung (ITB), BRIN (saat itu masih LIPI), dan U-INSPIRE untuk upaya penguatan kapasitas masyarakat di pesisir selatan Lebak. Selanjutnya, dengan didukung oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BRIN, U-INSPIRE Indonesia, Tim ITB melaksanakan Program Pengabdian Kepada Masyarakat untuk pembuatan peta area pemukiman di Cimangpang dan Sukarena/Cikumpay, pemodelan inundasi tsunami, pemetaan eksposure dengan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), pembuatan desain papan informasi publik mengenai tsunami yang disusun secara partisipatif, survei kondisi existing sumber daya desa dan digitalisasi peta rute evakuasi kampung menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Google Map. Untuk kegiatan yang dilaksanakan di tahun 2022, ITB melalui kerangka Program Pengabdian Masyarakat, bekerja sama dengan GMLS, BRIN, BMKG, U-INSPIRE Indonesia, Kodam III/ Siliwangi, Korem 064/Maulana Yusuf, PMI, RAPI, dan Dompet Dhuafa, untuk membangun kesiapan masyarakat pesisir selatan Lebak dalam menghadapi tsunami. Peningkatan kapasitas masyarakat ini mengacu pada indikator Desa Tangguh Bencana, UNESCO-IOC Tsunami Ready, dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) melalui kegiatan penyiapan materi pendidikan kesiapsiagaan gempa tsunami untuk SMA, workshop mitigasi gempa dan tsunami, perencanaan dan pelatihan tanggap bencana gempa dan tsunami di sekolah, fasilitasi penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sekolah, penyiapan tempat evakuasi sementara dan akhir, pembentukan tim gugus mitigasi sekolah, pelatihan tanggap darurat tsunami dan kemampuan menerima dan menyampaikan peringatan dini 24/7. Fokus utama kegiatan adalah membangun kapasitas GMLS serta kapasitas sekolah dengan pilot project di SMA Negeri 1 Panggarangan. SMA Negeri 1 Panggarangan merupakan salah satu sekolah di pesisir selatan Lebak yang hanya berjarak 300 meter dari tepi laut. Selain sekolah tersebut, terdapat 28 sekolah lainnya yang berada pada zona merah rendaman tsunami di sepanjang pesisir selatan Lebak. Tidak ada penghalang atau barisan vegetasi yang bisa meredam laju ombak dari laut menuju sekolah. Kondisi ini tentunya menjadi hal yang perlu diantisipasi oleh pihak sekolah, apa yang harus mereka siapkan dan lakukan mulai dari saat ini. Tak ada seorang pun yang mengetahui waktu terjadinya sebuah bencana, namun kita bisa memilih untuk memiliki kesiapan kapan pun bencana itu terjadi. Kegiatan pendampingan penguatan kapasitas masyarakat untuk pengurangan risiko bencana ini dilakukan selama 9 hari, dimulai dari tanggal 28 Juni 2022 hingga 6 Juli 2022. Tim Program Pengabdian Masyarakat ITB terdiri dari dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Geofisika ITB, yaitu Dr. Endra Gunawan, Medina Apriani, Fichri Firmansyah, Tania Suara Ning Tyas, Muhammad Raya Fadhillah, Luthfi Wira Wicaksana, dan Rahmat Hidayat, kemudian dosen dan mahasiswa Program Studi Seni Rupa ITB dan Program Studi Desain Komunikasi Visual ITB yaitu Ardhana Riswarie, S.Sn., M.A., Bagas Mahardika, Qanissa Aghara, Krisna Julian, Aura Fakhira Astiana, Achmad Afief Aulia Shadiqa, Rifqi Zuhdi Afifi, dan dibantu oleh Peneliti di Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN yaitu Dr. Rahma Hanifa, dan dari U-INSPIRE Indonesia, yaitu Aan Anugrah, Tinitis Rinowati, Wina Natalia dan Tri Nugroho. Tim ini menyusun serangkaian kegiatan yang diawali dengan membangun pemahaman hingga mengekspresikan pemahaman tersebut dalam bentuk materi edukasi berbasis sains, seni, dan kearifan lokal. Rangkaian upaya peningkatan kapasitas ini dimulai dengan mengenalkan warga sekolah terkait proses alam terjadinya gempa dan tsunami. Pengenalan proses alam dilakukan untuk membangun pemahaman dasar mitra lokal sekaligus penerima manfaat utama kegiatan yakni GMLS dan tim gugus mitigasi sekolah. Selanjutnya terdapat kegiatan pelatihan evakuasi gempa dan tsunami, pengembangan SOP kedaruratan gempa tsunami, susur rencana jalur evakuasi, simulasi evakuasi dan tanggap darurat tsunami, pengujian penerimaan dan diseminasi informasi peringatan dini tsunami, serta pengembangan materi edukasi partisipatif dengan siswa dan guru SMA berbasis sains, seni, dan kearifan lokal. Pengenalan sekaligus praktik asesmen infrastruktur sekolah dilakukan dalam konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan pendampingan penguatan kapasitas gugus mitigasi bencana sekolah. Selain itu, ada satu materi yang diisi oleh perwakilan masyarakat Lebak melalui GMLS, tentang tradisi lisan yang ditemukan di beberapa titik wilayah Lebak selatan. Tradisi lisan ini memuat istilah “Caah Laut” yang secara harfiah memiliki arti banjir laut. Istilah ini kemudian ditafsirkan lebih luas menjadi suatu fenomena datangnya air laut ke daratan pada masa lalu. Masyarakat di pesisir selatan Kabupaten Lebak kemudian meyakini bahwa Caah Laut dan tsunami memiliki konteks serupa. Program Pengabdian Masyarakat ITB ini juga berkolaborasi dengan PMI untuk pelatihan keterampilan pertolongan pertama yang didukung pula oleh Puskesmas Desa Panggarangan. Selain itu, keterampilan lain yang dilatihkan ialah perakitan dan pemanfaatan dapur umum oleh Detasemen Perbekalan Angkutan Korem 064/Maulana Yusuf. Keterampilan ini kemudian dipraktikkan oleh siswa dan guru pada saat simulasi evakuasi dan penyelenggaraan tanggap darurat yang dilakukan pada tanggal 2 dan 3 Juli 2022. Jejaring Kemitraan dalam Upaya Membangun Ketangguhan Jangka Panjang Sebagian besar mitra program telah menjalin kerja sama dalam kerangka membangun kapasitas masyarakat di selatan Lebak sejak tahun 2021, melalui kegiatan luring maupun

Pendampingan Masyarakat Pesisir Kabupaten Lebak untuk Mencapai Indikator UNESCO-IOC Tsunami Ready Berbasiskan Sains dan Seni Read More »

Shopping Cart