May 2025

Sirine Mandiri Desa di Desa Panggarangan

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Sirine Mandiri Desa di Desa Panggarangan Tanggal Rilis: 25 May 2023 | 20:00 Tags: GMLS, Tsunami Ready, Evakuasi Penulis: Selvithia Apriany Desa Panggarangan di Kabupaten Lebak Selatan menjadi salah satu desa yang berada di zona rawan tsunami. Desa Panggarangan adalah desa pertama di Provinsi Banten yang berhasil mendapat pengakuan IOC-UNESCO sebagai masyarakat siaga tsunami. Pengakuan ini diperoleh setelah dipenuhinya 12 indikator tsunami ready. Salah satu indikator tsunami ready adalah tersedianya sarana atau peralatan info gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Sirine Mandiri Desa menjadi sarana atau peralatan info terjadinya gempa bumi dan peringatan dini tsunami. Sirine ini sebuah inovasi dari Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) yang didesain untuk meneruskan peringatan dini bencana ataupun pengumuman atau himbauan dari pemerintah desa berupa suara sirine dan himbauan berbentuk suara, memiliki keandalan daya listrik mandiri, terhubung melalui koneksi frekuensi radio, memiliki keamanan dari penggunaan yang tidak sah, dan pemeliharaan yang mudah serta murah. Jika sirine mandiri desa ini berbunyi, maka menandakan telah terjadi gempa bumi yang berpotensi tsunami dan berdampak ke Desa panggarangan. Masyarakat kemudian dihimbau untuk segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat evakuasi yang terdekat. Sirine mandiri desa ini dibangun pada Oktober 2022 dan diletakkan di lokasi strategis yaitu di halaman SD Negeri 3 Panggarangan. Oleh karenanya, anak-anak yang bersekolah di SD Negeri 3 Panggarangan menjadi lebih familiar tentang sirine mandiri desa. Dibantu mahasiswa dari Universitas Multimedia Nusantara yang bekerja sama dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan, para siswa diberi pengetahuan dan pengenalan terhadap sirine mandiri desa. Diharapkan pengetahuan ini turut memberi wawasan pada para siswa bahwa mereka memang tinggal di daerah rawan bencana. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Sirine Mandiri Desa di Desa Panggarangan Read More »

Sosok Relawan Kecil Dalam Gugus Mitigasi Lebak Selatan

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Sosok Relawan Kecil Dalam Gugus Mitigasi Lebak Selatan Tanggal Rilis: 17 May 2023 | 14:24 Tags: GMLS, Relawan Penulis: Selvithia Apriany Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) adalah sebuah komunitas masyarakat lokal yang bergerak di bidang mitigasi bencana. GMLS ini didirikan karena Lebak Selatan adalah salah satu desa di Indonesia yang termasuk dalam kategori rawan bencana. Potensi bencana tersebut adalah gempabumi, longsor, gelombang tinggi atau rob, angin kencang, banjir bandang dan banjir. Komunitas Gugus Mitigasi Lebak Selatan ini digagas oleh Anis Faisal Reza (sering dipanggil sebagai Abah Lala) pada tanggal 13 Oktober 2020, bertepatan dengan hari pengurangan risiko bencana internasional. Ia merintis komunitas ini dengan harapan agar masyarakat mulai memikirkan potensi risiko bencana dan mulai belajar bagaimana cara mengurangi risikonya. Ia juga mengkampanyekan bahwa masyarakat harus belajar berdikari dalam urusan bencana, tidak melulu menggantungkan segala sesuatunya pada pihak luar. Keunikan dalam komunitas Gugus Mitigasi Lebak Selatan ini terdapat sosok relawan kecil yang sangat pemberani, baik dan pintar. Sosok relawan kecil ini bernama Adeline Syarifah Anis, seorang anak perempuan yang masih berumur 9 tahun. Adel bergabung dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan dari 8 bulan yang lalu yaitu, September 2022. Keinginan Adel untuk bergabung dalam Gugus Mitigasi Lebak Selatan ini termotivasi dari ayahnya yaitu, Anis Faisal Reza. Selain itu, sosok relawan kecil ini juga pada dasarnya suka bersosialisasi dan menolong. “Aku sering melihat Abah dan anggota gugus mitigasi lainnya berkegiatan dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, lalu aku juga suka berkegiatan atau bersosialisasi. Jadi aku pingin ikut dalam kegiatan tersebut.” ujar Adeline Syarifah Anis. Selama bergabungnya dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan, Adel mendapat banyak sekali pelajaan kebencanaan. Pelajaran-pelajaran yang Adel dapatkan selama bergabung dengan Gugus Mitigasi Lebak Selatan adalah cara bersosialisasi atau berkegiatan dan cara berlindung dari gempa.“Selama aku bergabung dengan GMLS aku mendapat pelajaran cara bersosialisasi dan cara berlindung dari gempa.” Kata Adeline. Dengan pengetahuannya itu Adel mulai mengajak temannya untuk bersamanya menjadi relawan kecil dalam Gugus Mitigas Lebak Selatan. Namun, temannya yang ingin bergabung dengan GMLS memiliki kendala dalam kendaraan menuju lokasi GMLS. Harapan Adel sebagai relawan kecil Gugus Mitigasi Lebak Selatan adalah agar GMLS semakin maju, diperhatikan sama masyarakat Indonesia dan semoga semakin banyak anggotanya. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Sosok Relawan Kecil Dalam Gugus Mitigasi Lebak Selatan Read More »

Pentingnya Tas Siaga Bencana Di Indonesia

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Pentingnya Tas Siaga Bencana Di Indonesia Tanggal Rilis: 14 Apr 2023 | 11:00 Tags: Bencana, Mitigasi Penulis: Selvithia Apriany Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak wilayah dengan risiko cuaca ekstrem, gempa bumi, dan tsunami. Dilansir dari CNBC Indonesia, laporan dari World Risk Report 2022 yang dirilis Bundnis Entwicklung Hilft dan IFHV of the Ruhr-University Bochum mengatakan bahwa ternyata Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Indonesia menduduki posisi ketiga sebagai negara yang rawan bencana setelah Filipina dan India. Indonesia menjadi negara yang rawan bencana karena terletak di pertemuan tiga lempeng. Adanya pergerakan lempeng ini membuat Indonesia sangat rentan mengalami bencana alam. Bencana alam yang akan sering terjadi di Indonesia khususnya di bidang geologi seperti gempa bumi tektonik, tsunami, hingga erupsi gunung berapi. Indonesia menjadi salah satu tempat rawan bencana. Maka dari itu, masyarakat Indonesia butuh pemahaman mengenai kesiapsiasagaan menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Pemahaman yang paling sederhana adalah mengenai tas siaga bencana. Tas siaga bencana adalah tas yang berisi surat-surat penting, pakaian untuk 2-3 hari, makanan yang tahan lama, air minum, obat-obatan, masker, radio/ponsel, perlengkapan mandi, senter dan baterai, peluit, dan uang. Tas ini sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya dan digunakan oleh masyarakat untuk pergi melakukan evakuasi ketika bencana terjadi. Tujuan dari tas siaga bencana adalah sebagai persiapan untuk bertahan hidup saat bantuan belum datang dan memudahkan kita saat evakuasi menuju ke tempat aman. Melalui Program Tsunami Ready yang menyiapnyiagakan masyarakat menghadapi potensi bencana tsunami, masyarakat Desa Panggarangan, Kabupaten Lebak, juga diberi edukasi tentang tas siaga bencana. Sebagaimana diketahui Desa Panggarangan menjadi salah satu desa rawan bencana gempa/tsunami di Indonesia. Masyarakat Desa Panggarangan kini banyak yang sudah menyiapkan tas siaga bencana untuk berjaga-jaga jika terjadi bencana. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Pentingnya Tas Siaga Bencana Di Indonesia Read More »

Apa yang Perlu Dilakukan Jika Terjadi Gempa Bumi Saat Berkendara?

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Apa yang Perlu Dilakukan Jika Terjadi Gempa Bumi Saat Berkendara? Tanggal Rilis: 21 Jan 2023 | 10:00 Tags: Gempa, Evakuasi Penulis: Monika Gian Asti Secara geografis, Indonesia berada di wilayah yang rawan bencana alam. BMKG mengingatkan Indonesia berada di daerah lempeng aktif gempa bumi, sehingga potensi-potensi gempa tersebut memungkinkan terjadi. Lalu, apa yang harus kita lakukan jika gempa terjadi saat sedang mengendarai mobil? Dilansir dari Auto2000, Jumat, (6/1/2023). Salah satu pertanda terjadinya gempa bumi adalah pepohonan bergoyang secara tidak wajar atau orang-orang berhamburan keluar dari rumah atau gedung. Selain itu, guncangan yang tidak wajar di dalam mobil juga jadi salah satu ciri-ciri terjadinya gempa bumi. Saat guncangan terjadi, Anda tidak disarankan untuk keluar dari mobil, mengingat kita bisa terjatuh di tengah jalan akibat gempa bumi dan bisa tertabrak kendaraan lain. Anda harus tetap fokus pada kondisi jalan di depan, hat-hati dengan risiko pohon atau bangunan roboh, jalan retak, dan tanah longsor. Meskipun guncangan akibat gempa bumi masih bisa diredam oleh sistem suspensi mobil. Dalam kondisi saat ini, mobil yang sedang melaju disarankan agar mengurangi kecepatan. Namun Anda jangan juga mengerem mendadak, karena akan membahayakan pengemudi lain di belakang. Jangan lupa untuk menyalakan lampu hazard, tunggu sampai situasi tenang dan terkendali. Pastikan seluruh penumpang dalam kondisi baik. Amati situasi di luar, jika guncangan sudah tidak terasa lagi, Anda diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan. Namun alangkah baiknya untuk mengecek kondisi mobil dan jalan yang akan dilewati. Utamakan keselamatan berkendara dan kendalikan emosi agar tidak menimbulkan masalah baru seperti kecelakaan. Segera tinggalkan mobil dan cari lapangan terbuka. Lain ceritanya bila mobil dalam posisi tertimpa pohon atau bangunan. Jangan paksakan mengevakuasi mobil karena ada risiko bahaya. Tunggu sampai tim evakuasi datang dan biarkan para ahli yang mengerjakan dibandingkan membahayakan keselamatan diri dan orang lain. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Apa yang Perlu Dilakukan Jika Terjadi Gempa Bumi Saat Berkendara? Read More »

Cara Evakuasi Diri dari Bahaya Gempa Bumi

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Cara Evakuasi Diri dari Bahaya Gempa Bumi Tanggal Rilis: 19 Jan 2023 | 15:00 Tags: Gempa, Evakuasi Penulis: Monika Gian Asti Gempa bumi adalah bencana alam yang sering terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia. Gempa bumi terjadi akibat pergeseran lempeng bumi yang juga dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam bencana alam lainnya, seperti tsunami, gunung erupsi, dan longsor. Terjadinya gempa bumi kerap kali membuat masyarakat menjadi panik, akibat mereka tidak paham untuk menghadapi bencana alam itu. Belum lagi jika getaran yang dihasilkan sangatlah kencang, membuat masyarakat ingin menyelamatkan diri dengan cara apapun. Mulai dari berteriak sampai belarian keluar. Salah satu cara agar tidak panik menghadapi gempa bumi, dimulai dari rajin mengakses atau mencari informasi potensi gempa bumi terkini di Indonesia. Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sering kali memberikan titik daerah yang berpotensi mengalami gempa bumi melalui aplikasi ataupun media sosial resmi milik BMKG. Dengan mengetahui titik gempa bumi yang dituju lewat BMKG, masyarakat bisa mempersiapkan diri, sehingga tidak panik ketika gempa bumi melanda. Selain itu, cara lain untuk mengatasi gempa bumi telah dipublikasikan oleh Centers of Disease Control and Prevention (CDC) di laman resminya, Jumat, (6/1/2023). Langkah menyelamatkan diri melakukan drop, cover, dan hold on dapat dilakukan ketika berada di dalam ruangan saat gempa bumi terjadi. Drop, yaitu menjatuhkan badan lebih dulu dengan posisi lutut menyentuh lantai sebelum getaran gempa bertambah besar. Posisi ini akan melindungi kita dari cedera karena jatuh dan memungkinkan kita untuk bergerak. Cover, yaitu lindungi tangan dan leher atau seluruh badan jika memungkinkan dengan berlindung di bawah meja yang kokoh. Jika tidak ada meja, lekukan perlindungan diri di bawah furnitur yang kokoh seperti kasur. Lalu lindungi kepala dan leher dengan menggunakan lengan. Hold On, yaitu pegang tempat berlindung atau pegang kepala dan leher sampai goncangan berhenti. Pastikan selalu mengikuti arah gerak meja/furnitur lainnya yang bergeser akibat guncangan gempa. Salah satu cara yang salah dalam menghadapi gempa bumi, ialah berlarian keluar. Hal tersebut dinilai fatal karena saat ketika kita berlari di tengah guncangan gempa bumi, memungkinkan kita untuk terjatuh dan menyebabkan luka-luka di badan. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Cara Evakuasi Diri dari Bahaya Gempa Bumi Read More »

Tinggal di Daerah Rawan Bencana, Pelajari Tahapan Penanganan Bencana

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Tinggal di Daerah Rawan Bencana, Pelajari Tahapan Penanganan Bencana Tanggal Rilis: 18 Jan 2023 | 18:00 Tags: Mitigasi, Bencana Penulis: Monika Gian Asti Mengingat bencana alam merupakan risiko yang tidak terhindarkan. Edukasi mitigasi bencana adalah hal penting yang perlu diketahui untuk setidaknya mengurangi dampak dari bencana. Ada beberapa cara dan tahapan guna mengurangi risiko dan dampak dari bencana alam. Berikut tahap-tahap penanganan bencana dikutip dari laman resmi BPBD Kabupaten Purworejo, Jumat, (6/1/2023). Langkah untuk memberikan edukasi soal mitigasi bencana dapat dimulai dari membuat peta wilayah rawan bencana, pembuatan bangunan tahan gempa, penanaman pohon bakau, penghijauan hutan, serta memberikan penyuluhan dan meningkatkan kesadaran masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Berikutnya, langkah dari mitigasi adalah perencanaan. Perencanaan dibuat berdasarkan bencana yang pernah terjadi dan bencana alam lain yang mungkin akan terjadi. Tujuannya adalah untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan lain. Diperlukan juga pelatihan warga di wilayah rawan bencana untuk menghadapi bencana alam jika sewaktu-waktu datang. Misalnya, masyarakat harus dibiasakan jika merasa ada goyangan yang dinilai gempa, mereka berlindung di bawah benda-benda yang kuat, seperti meja atau di bawah tempat tidur. Langkah selanjutnya adalah respons, yang merupakan upaya meminimalkan bahaya yang diakibatkan bencana. Tahap ini berlangsung sesaat setelah terjadi bencana. Rencana penanggulangan bencana dilaksanakan dengan fokus pada upaya pertolongan korban bencana dan antisipasi kerusakan yang terjadi akibat bencana. Masyarakat diminta agar saling menolong satu sama lain. Hal yang tak kalah penting dari upaya mitigasi adalah pemulihan. Langkah ini merupakan langkah yang perlu diambil setelah bencana terjadi guna mengembalikan kondisi masyarakat seperti semula. Pada tahap ini, fokus diarahkan pada penyediaan tempat tinggal sementara bagi korban serta membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak. Selain itu, juga perlu dilakukan evaluasi terhadap langkah penanggulangan bencana yang dilakukan. Berdasarkan siklus waktunya, kegiatan penanganan bencana dapat dibagi 4 kategori. Pertama kegiatan sebelum bencana terjadi, meliput ciri-ciri bencana alam dan cara menghadapinya. Kedua, kegiatan saat bencana terjadi. Ketiga, kegiatan tepat setelah bencana terjadi, mulai dari saling menolong sesama, sampai pencarian korban yang terkena bencana alam. Terakhir, kegiatan pasca bencana yang meliputi pemulihan, penyembuhan, perbaikan, dan rehabilitasi. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Tinggal di Daerah Rawan Bencana, Pelajari Tahapan Penanganan Bencana Read More »

Apa itu Mitigasi?

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Apa itu Mitigasi? Tanggal Rilis: 17 Jan 2023 | 19:00 Tags: Mitigasi Penulis: Monika Gian Asti Seperti yang sudah kita pelajari sejak kecil. Secara geografis, Indonesia berada di wilayah yang rawan bencana alam. Sepanjang tahun 2022, Indonesia tak lepas dari berbagai bencana alam. Menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), setidaknya ada 22 gempa bumi yang melanda sepanjang tahun 2022. Sayangnya tidak semua masyarakat di seluruh daerah Indonesia paham dengan apa yang harus dilakukan ketika dihadapkan pada situasi bencana. Kebanyakan dari mereka justru panik. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan eduksi soal mitigasi bencana kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Maka dari itu, mitigasi bencana menjadi hal penting yang bisa membantu kita untuk mengurangi kerugian bencana alam. Salah satu cara mengurangi kerugian bencana alam adalah dengan mengadakan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya mitigasi bencana. Namun, apa arti sebenarnya mitigasi bencana itu? Menurut laman resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemerintah Kabupaten Bogor, Jumat, (6/1/2023). Mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana. Bisa dikatakan, mitigasi bencana adalah segala upaya mulai dari pencegahan sebelum suatu bencana terjadi, sampai dengan penanganan usai suatu bencana terjadi. Hal terkait mitigasi juga diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2007. Undang-Undang tersebut juga memuat definisi tentang mitigasi. Menurut UU 24 Tahun 2007, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi bencana sering kali dikaitkan dalam teori persepsi risiko. Dilansir dari Kumparan (6/1/2023) teori persepsi risiko merupakan teori yang berpandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh persepsinya masing-masing. Mudahnya, semua tindakan kita akan ditentukan oleh sudut pandang kita sendiri. Berkaitan dengan teori tersebut, jika kita mempunyai persepsi risiko atau tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap bencana alam. Alhasil kita menyadari suatu bencana alam berisiko untuk diri kita, maka kita akan lebih mudah untuk mengubah perilaku kita dan mempersiapkan diri akan bencana alam yang akan datang. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Apa itu Mitigasi? Read More »

Indonesia Perlu Berkaca Pada Banda

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Indonesia Perlu Berkaca Pada Banda Tanggal Rilis: 15 Jan 2023 | 09:00 Tags: Tsunami, Mitigasi Penulis: Nisrina Khairunnisa “Daerah Aceh tanoh loh sayang, ni bak teumpat nyan loen udep mate.” Kiranya, sepenggal lirik lagu tersebut mendeskripsikan kecintaan, kerelaan, kepemilikan dan kenyamanan Tanoh keuneubak, indatu moyang, Aceh. Daerah yang terletak di ujung barat Sumatera ini, tak ubahnya bak seorang gadis cantik yang tak bosan diperbincangkan, mungkin juga diperebutkan. Mulai dari masa kesultanan, syariat islam, kegigihan melawan penjajah, perannya memberi modal bagi Republik Indonesia di awal kemerdekaan, dinamika politik, tsunami, bahkan yang terbaru ialah statusnya sebagai provinsi termiskin di pulau keenam terbesar di dunia yang terletak di Indonesia, dengan luas 473.481 km². Baik buruknya patut disyukuri, menjadi semangat serta harapan untuk memperbaiki daerah berjuluk ‘Serambi Mekkah’ itu. Karena sejatinya, sejarah tidak perlu diperdebatkan tapi dimaknakan untuk perbaikan di masa depan bagi kaum yang ingin merubah nasibnya. Aceh berhasil membuktikan kepada dunia bahwa kehancuran di atas permukaan tanah Banda Aceh lantas tidak serta merta menghancurkan semangat warganya untuk mengelola kembali sumber daya yang masih tersisa. Setelah tsunami Aceh 2004, bencana mulai dibicarakan, didiskusikan, dicari jalan keluar untuk kegiatan mitigasi sehingga melahirkan UU No. 24 2007 tentang penanggulangan bencana dan semua peraturan perundangan turunannya, maka garis besar ruang lingkup penyelenggaraan penanggulangan bencana terangkum menjadi: 1. Semua upaya penanggulangan bencana yang dilakukan pada saat pra bencana, saat tanggap darurat, dan pasca bencana2. Penitikberatan upaya-upaya yang bersifat preventif pada pra bencana3. Pemberian kemudahan akses bagi badan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat4. Pelaksanaan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pada pasca bencana. Aceh termasuk termasuk wilayah yang sangat rawan terhadap bencana, salah satunya adalah gempa yang dapat mengakibatkan gelombang tinggi. Banyak temuan ilmiah yang memastikan keberulangan bencana gelombang tinggi tersebut, meskipun pakar atau ahli sehebat apapun tidak akan pernah bisa memprediksi kapan dan dimana bencana tersebut akan terjadi. Apabila menyinggung masalah mitigasi dan keterkaitannya dengan bencana, pola pikir masyarakat masih sangat mainstream yaitu bencana terjadi dikarenakan fenomena alam dan diserahkan kepada kuasa Tuhan sehingga banyak masyarakat yang cenderung pasrah tanpa memikirkan cara penanggulangan jangka panjang yang dapat dilakukan. Istilah mitigasi mencuat dan popular di Indonesia setelah terjadinya bencana besar yang melanda negeri ini. Beberapa lembaga negara non kementerian dibentuk untuk menangani kasus bencana sebelum, pada saat dan setelah terjadinya bencana tersebut. Salah satunya adalah Tsunami And Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala. TDMRC juga berkontribusi meningkatkan masyarakat yang tahan bencana, berkolaborasi dengan para peneliti dan lembaga riset lainnya dalam riset-riset kebencanaan. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Indonesia Perlu Berkaca Pada Banda Read More »

Mengangkat Peran Mahasiswa Dalam Isu Kebencanaan

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Mengangkat Peran Mahasiswa Dalam Isu Kebencanaan Tanggal Rilis: 14 Jan 2023 | 18:00 Tags: GMLS, UMN, Humanity Project Penulis: Nisrina Khairunnisa Seseorang yang mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi disematkan status sebagai ‘mahasiswa’. Mahasiswa terbentuk dari kata maha dan siswa. Asal kata maha berasal dari bahasa Sansekerta dengan arti yang hampir sama dengan KBBI, yaitu ‘sangat’, ‘besar’, atau ‘mulia’. Sedangkan siswa menurut KBBI, adalah ‘murid’ atau ‘pelajar’ yang berarti sosok pembelajar yang giat mempelajari ilmu pengetahuan. Perlu pemaknaan yang cukup matang untuk dapat memahami kata tersebut secara utuh. Sebab, mengemban titel ‘mahasiswa’ menjadi suatu tanggung jawab yang tidak mudah. Selain dituntut untuk menjadi cendekiawan, mahasiswa juga memiliki beberapa peran yang tidak bisa lepas dari kontribusinya di lingkup sosial. Fungsi mahasiswa sangat dibutuhkan masyarakat umum khususnya bagi Bangsa Indonesia yang tingkat pendidikannya masih tergolong rendah. Dikutip dari databoks.katadata.co.id, ada sekitar 6% penduduk Indonesia yang sudah mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini terbilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan masyarakat Indonesia. Menurut data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), penduduk Indonesia berjumlah 275,36 juta jiwa pada Juni 2022. Dari pangkalan data tersebut, sumber daya manusia dengan potensi dan kualitas berdasarkan tingkat pendidikan masih perlu menjadi bahan evaluasi yang mesti ditilik kembali oleh petinggi di negara ini. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri ialah dengan meningkatkan kemampuan dan kelebihan yang telah dipelajari agar pantas untuk dijadikan panutan serta teladan bagi masyarakat luas. Tentu hal ini akan semakin memotivasi generasi muda untuk bertekad menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin. Saat ini, peran mahasiswa menjadi harapan besar untuk kebangkitan suatu negara khususnya Indonesia yang merupakan negara dengan kekayaan budaya dan intelektual. Indonesia dengan segudang isu yang masih terus bergulir memerlukan sosok – sosok pembelajar yang peduli dan cinta terhadap tanah kelahirannya. Satu dari sekian isu yang tak kalah penting untuk dijadikan pembahasan saat ini ialah isu kebencanaan. Belakangan, alam sudah ‘tak tahu malu’ untuk menunjukkan kegarangannya kepada manusia. Bencana secara beruntun terjadi membengkakkan mata manusia yang terdampak di wilayah rawan terjadi tragedi yang cukup merugikan para makhluk hidup. Kebanyakan dari mereka pasrah atas apa yang menjadi kehendak Sang Maha Kuasa. Namun, perlu diketahui bahwa musibah yang menimpa manusia akibat kondisi alam ini seharusnya masih bisa diatasi atau minimal dikurangi dampak buruknya. Bencana alam yang sering muncul di bumi pertiwi merupakan keniscayaan yang harus diterima oleh seluruh warga berkebangsaan Indonesia. Fakta geografis Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo Australia dan Lempeng Pasifik menjadikan Indonesia sebagai kawasan Cincin Api Pasifik. Kondisi ini memicu seringnya gempa bumi dan letusan gunung berapi di sekitaran wilayah cincin api. Hal inilah yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara paling rawan bencana. Tidak bisa dimungkiri bahwa realita di depan mata ini menjadi tantangan besar Bangsa Indonesia, khususnya bagi generasi masa depan yang akan memegang kendali di negeri ini. Kontribusi Penting Mahasiswa Sebagai agent of change atau agen perubahan yang dapat mengundang respon aksi dari berbagai kalangan mulai dari kaum tua hingga anak muda, mahasiswa merupakan golongan yang bisa diandalkan untuk mempengaruhi khalayak. Kontribusi dari pelajar di jenjang pendidikan tinggi yang memiliki keahlian mendalam di berbagai bidang ini sudah sepantasnya menjadi sumber potensial untuk bangkit bersama – sama memecahkan permasalahan. Tak sampai disitu, peran mahasiswa juga diperuntukan untuk mencari solusi terbaik dalam penanganan persoalan bencana mulai dari konsep mitigasi dan resiliensi bencana sehingga proses rekonstruksi pasca bencana lebih mudah terkendali. Seperti halnya yang dilakukan Idzma Mahayattika pada 2004, tatkala ia masih berstatus mahasiswa. Ia dengan rasa kepeduliannya terhadap kegiatan kemanusiaan kala itu mendaftarkan diri ke beberapa komunitas dan institusi kerelawanan hingga akhirnya bergabung bersama Pandu Keadilan dan Relawan Jawa Barat. Ia bertugas sebagai tim SAR dan Rescue untuk membuka jalur ke Meulaboh. Namun setelah sampai disana, Idzma bersama tim diarahkan untuk mendukung tim logistik dan rumah sakit. Sebelumnya, ia sempat melakukan bersih – bersih Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh agar bisa kembali menyelenggarakan sholat jumat pasca tsunami sebagai simbol kebangkitan Aceh. Bersama dengan timnya, Idzma beraksi menjadi relawan di Aceh dengan segala tantangan yang mesti mereka lewati. Salah satunya ialah ketika berada di wilayah konflik. Menurut Idzma, seorang mahasiswa harus bisa peka dengan kondisi sekitarnya dengan mengasah kepekaan sosial di tengah masyarakat dan lingkungan. Mahasiswa memiliki hak istimewa yang sangat berpeluang dengan mudah untuk berkontribusi langsung dengan lingkup sosial, khususnya kebencanaan. Dalam mengikuti proses kerja dalam isu kebencanaan, terdapat beberapa hal yang perlu disiapkan mahasiswa. Idzma membagi kedalam beberapa poin, yaitu: 1. Bergabung dan bekerja sama dengan lembaga profesional agar memiliki dasar arahan yang jelas dan belajar dari mereka yang sudah memiliki pengalaman terdahulu.2. Sadari kemampuan diri sehingga bisa membantu sesuai kapasitas tanpa memaksakan hal – hal yang berada di luar kendali.3. Turut andil dalam memajukan program dengan mengikuti SOP secara terstruktur dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Kolaborasi Menjadi Kunci Dari pengalaman yang disampaikan narasumber sebelumnya, mahasiswa sepatutnya dapat menyadari betapa sakral dan magisnya peran mereka di masyarakat. Dari sekian banyak gelar yang ada dunia, mahasiswalah yang paling memiliki potensi untuk menjangkau ke banyak area. Lengkap dengan kemampuan kompeten yang telah dipelajari dan kelebihan lainnya yang dimiliki generasi muda, tentunya masyarakat Indonesia tidak bisa menutupi fakta bahwa mereka sangat menggantungkan masa depan yang cerah dengan keberadaan mahasiswa yang peduli terhadap bangsanya. Melakukan kolaborasi dengan pihak – pihak ahli akan semakin memperkuat daya juang yang ingin dicapai. Seperti yang dilakukan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara yang memberikan peran sertanya kepada Gugus Mitigasi Lebak Selatan, sebagai lembaga swadaya masyarakat yang sedang memperjuangkan kesadaran warganya untuk lebih aware terhadap isu bencana, keaktifan mahasiswa dalam upaya ini menjadi solusi cerdas yang diinovasikan petinggi akademisi dan praktisi. Mereka saling bersatu padu membangkitkan semangat masyarakat untuk membuka mata lebih lebar terkait adanya potensi bencana di wilayah tempat tinggal mereka. Salah satu kegiatan yang digiatkan para mahasiswa pada momen tersebut adalah memberikan edukasi dan pengetahuan dasar kepada warga setempat tentang karakteristik wilayah dan cara aman berlindung dalam proses evakuasi pada saat terjadi bencana. Mahasiswa yang mendatangi warga mendapatkan sambutan hangat, bahkan masyarakat

Mengangkat Peran Mahasiswa Dalam Isu Kebencanaan Read More »

Kebun Herbal Sebagai Program Resiliensi Bencana

Home Who We Are Programs Events Library Infografis Contact Hamburger Toggle Menu DONATE Articles Kebun Herbal Sebagai Program Resiliensi Bencana Tanggal Rilis: 06 Jan 2023 | 09:00 Tags: Resiliensi Penulis: Delvin Roynaldo Kebun Herbal yang berada di Villa Hejo Kiarapayung merupakan kebun herbal mini yang berada di tengah kebun sawit yang telah menua. Kebun herbal ini digagas oleh Ketua Gugus Mitigasi Lebak Selatan, Anis Faisal Reza. Anis Faisal Reza yang biasa akrab disapa “Abah Lala” memiliki cita-cita yang besar terhadap mitigasi bencana di Lebak Selatan, oleh karena itu ia menginisiasi Gugus Mitigasi Lebak Selatan sebagai salah satu komunitas yang menjalankan program bernama “Piloting Tsunami Ready”. Piloting Tsunami Ready merupakan sebuah program yang berupaya membangun masyarakat yang tangguh melalui strategi kesadaran dan kesiapsiagaan yang akan melindungi kehidupan, mata pencaharian,dan harta benda dari tsunami di berbagai wilayah. Program ini sedang dijalankan di Desa Panggarangan dengan menganut 11 Indikator Tsunami Ready yang dibuat oleh IOC-UNESCO. Salah satu program dari Piloting Tsunami Ready adalah resiliensi bencana, dimana masyarakat nantinya harus memiliki daya lenting dan memiliki kemampuan untuk kembali ke keadaan sebelum terjadinya bencana bahkan dengan keadaan yang lebih baik. Program resiliensi yang akan segera digagas kedepannya adalah program kebun herbal. Program ini memiliki cita-cita dimana nantinya masyarakat di Desa Panggarangan bisa menanam kebun herbal di halaman rumahnya dan disepanjang jalan Cimangpang. “Ya nantinya kebun herbal ini akan menjadi salah satu program resiliensi masyarakat Desa Panggarangan, nantinya akan ada sosialisasi mengenai tanaman herbal, sehingga masyarakat bisa menanam tanaman herbal di rumah mereka dan nantinya diseluruh Jalan Cimangpang juga akan ditanami tanaman herbal” Ungkap Abah Lala saat diwawancarai di Kafe Herbal. Ketertarikan mengenai obat herbal ini diawali dari istri dari Abah Lala yaitu Resti Yuliani atau akrab disapa Teh Resti. Awalnya ia tidak percaya mengenai pengobatan herbal ini, namun akibat pengalaman orang tuanya saat sakit dan sembuh akibat obat ini, ia menjadi tertarik dengan tanaman herbal dan belajar mengenai khasiat tanaman herbal. Saat ini kebun herbal yang berjalan baru ada di Villa Hejo Kiarapayung, Desa Panggarangan. Kebun herbal ini diurus oleh Aki Agus selaku pengurus kebun herbal di Villa Hejo Kiarapayung. Hasil dari kebun herbal tersebut saat ini dimanfaatkan sebagai bahan-bahan dari Obat Herbal (Jamu) yang dibuat oleh Resti Yuliani untuk kebutuhan di Kafe Herbal. Saat ini Kafe Herbal menerima pesanan untuk pasien yang membutuhkan Jamu Herbal untuk keperluan berbagai keluhan penyakit, mulai dari penyakit ringan bahkan penyakit kronis seperti gagal ginjal. Harapan kedepannya program kebun herbal ini bisa menjadi salah satu program resiliensi yang akan berjalan di tahun depan. Untuk saat ini program resiliensi lainnya yang digagas oleh Gugus Mitigasi Lebak Selatan sudah ada dua yang berjalan, yaitu Program Kerajinan Bambu dan Program Budidaya Lebah Trigona. Kedepannya akan ada program kebun herbal dan program pemanfaatan pandan laut sebagai bagian dari program resiliensi yang akan berjalan. Kembali Share this Articles Facebook Twitter Whatsapp Instagram Envelope Linkedin Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan ALAMAT Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten – 42392 MEDIA sosial gugusmitigasibaksel Gugus Mitigasi Lebak Selatan contact us gugusmitigasibaksel@gmail.com 085 – 888 – 200 – 600 Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.

Kebun Herbal Sebagai Program Resiliensi Bencana Read More »

Shopping Cart