events

Menghidupkan Kembali "Bayah Dikumbah": Ikhtiar Pemuda Adat Menjaga Napas Mitigasi di Lebak Selatan

Tanggal Rilis: 14 April 2026 | 16:20

Lokasi: = Villa Hejo Kiarapayung

Penulis: Anis Faisal Reza

PANGGARANGAN – Masyarakat di pesisir Bayah, Kabupaten Lebak, kini tengah menggali kembali memori kolektif dan kearifan leluhur untuk menghadapi ancaman nyata megathrust di selatan Banten. Melalui inisiatif Indigenous School for Disaster Preparedness, pengetahuan lokal mulai diintegrasikan dengan sains modern sebagai fondasi ketangguhan bencana berbasis komunitas.

Dalam lokakarya dan dialog masyarakat yang digelar di Villa Hejo Kiarapayung, Minggu (12/4/2026), sebanyak 30 perwakilan pemuda, siswa, dan mahasiswa berkumpul untuk merumuskan ulang strategi mitigasi. Kegiatan ini lahir dari amanah program Indigenous Youth Fellowship 2026 dari Cultural Survival.

Siklus Alam dan Bebendon

Direktur Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS), Anis Faisal Reza, menekankan pentingnya narasi “Bayah Dikumbah” sebagai pengingat kolektif masyarakat akan potensi tsunami. Menurutnya, dalam perspektif budaya Sunda, bencana bukan sekadar fenomena geofisika, melainkan bagian dari cakramanggilingan atau siklus kehidupan.

“Dalam tradisi Sunda, bencana atau bebendon terjadi ketika manusia mulai melupakan nilai-nilai peradaban,” ujar Anis.

Pendekatan budaya ini dinilai krusial karena mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang sering kali luput dari solusi teknokratis. Hal ini sejalan dengan pandangan Dr. Herry Yogaswara dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyatakan bahwa pengetahuan lokal harus dipraktikkan secara konsisten, bukan sekadar menjadi artefak sejarah. Ia mencontohkan konsep Smong di Simeulue sebagai bukti keberhasilan mitigasi berbasis tutur.

Sains dan Kesiapan ” Golden Time”

Meski berbasis kearifan lokal, dimensi ilmiah tetap menjadi pilar utama. H. Asep Mulya Hidayat menyoroti krusialnya pemanfaatan golden time—waktu sempit yang tersedia bagi warga untuk menyelamatkan diri sesaat setelah gempa terjadi sebelum tsunami menerjang.

Langkah konkret dari pertemuan ini tidak berhenti pada diskusi semata. Para peserta menyepakati penyusunan modul pembelajaran mitigasi bencana berbasis kearifan lokal yang khusus dirancang bagi anak-anak usia dini (TK dan SD).

Penanggungjawab kegiatan, Sucia Lisdamara, menegaskan bahwa keterlibatan pemuda adat adalah kunci keberlanjutan. “Kesempatan ini adalah kepercayaan untuk membawa suara dan kekuatan pengetahuan masyarakat Bayah ke ruang pembelajaran yang lebih luas,” ungkapnya.

Upaya ini mempertegas bahwa di Lebak Selatan, kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada sirine atau teknologi pemantau, tetapi pada seberapa kuat masyarakat menjaga warisan leluhur sebagai navigasi keselamatan masa depan.

Tentang Gugus Mitigasi Lebak Selatan

Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) merupakan sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang mitigasi bencana sebagai bentuk kemanusiaan di daerah Lebak Selatan, Banten. Didirikan pada tahun 2020, GMLS hadir sebagai wujud kepedulian masyarakat lokal terhadap ancaman bencana alam, khususnya tsunami. Dengan visi “Masyarakat Lebak Selatan yang Siaga dan Tangguh Menghadapi Potensi Bencana Alam, GMLS melaksanakan berbagai kegiatan berkaitan dengan program Tsunami Ready dan Community Resilience. Hingga saat ini, GMLS telah mencatat berbagai pencapaian, salah satunya membantu Desa Panggarangan meraih status “Tsunami Ready Community” dari IOC-UNESCO, dan menjadi pionir dalam upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana di wilayah Banten. Untuk informasi lebih lanjut, mohon kunjungi www.gmls.org atau @gugusmitigasibaksel.

Admin: Dayah Fata Fadillah
Gugus Mitigasi Lebak Selatan
Telp. +62 858-8820-0600

 

Share this Events

Komunitas berbasis masyarakat yang bergerak di bidang mitigasi kebencanaan di Lebak Selatan

ALAMAT

Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten - 42392

Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.