Tanggal Rilis: 14 April 2026 | 22:04
Lokasi: = Villa Hejo Kiarapayung
Penulis: Steven Eduard
PANGGARANGAN – Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) resmi memperpanjang komitmen kolaborasi mereka dalam penguatan mitigasi bencana. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terbaru ini menandai babak baru setelah berakhirnya masa berlaku kerja sama periode sebelumnya, dengan fokus yang lebih tajam pada integrasi ilmu sosial dan teknologi.
Acara yang berlangsung di Panggarangan, Senin (13/4/2026), dihadiri langsung oleh Rektor UMN, Ir. Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D. Kehadirannya menegaskan bahwa kolaborasi dengan komunitas akar rumput seperti GMLS bukan sekadar aktivitas pelengkap, melainkan bagian strategis dari visi akademis.
Solusi Atas Keterbatasan
Direktur GMLS, Anis Faisal Reza, mengungkapkan bahwa perjalanan lima tahun terakhir telah membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya di lapangan dapat diatasi melalui strategi kolaborasi. Perpanjangan MoU ini menjadi dasar hukum untuk melanjutkan proyek ambisius “Kiara Payung Nusantara”.
“Kami memiliki banyak cita-cita besar untuk mitigasi di wilayah ini, namun sumber daya yang diperlukan sangat berat. Kolaborasi ini adalah solusi nyata atas keterbatasan tersebut,” ujar Anis.
Bagi GMLS, perpanjangan kerja sama ini sangat krusial mengingat lembaga ini tengah mengembangkan jejaring dengan lebih dari 40 mitra, termasuk rencana kolaborasi internasional dengan University of Bonn dan tim riset dari Jepang terkait sistem peringatan dini gempa (Earthquake Early Warning System).
Sentuhan Ilmu Sosial dan Teknologi
Hal unik dalam kolaborasi ini adalah keterlibatan aspek ilmu sosial yang cukup kuat, sebuah langkah yang disebut jarang terjadi dalam diskursus mitigasi bencana yang biasanya didominasi oleh sains eksakta.
Irwan Fakhruddin, perwakilan dari Program Studi Strategic Communication UMN, mencatat bahwa pendekatan ini mendapat apresiasi dari UNESCO. “Sepanjang UNESCO bekerja di Indonesia, baru UMN yang terlibat di ranah ilmu sosial untuk isu ini. Ternyata pendekatannya sangat strategis,” ungkapnya.
Di sisi lain, aspek teknis tetap dikawal melalui keterlibatan Fakultas Teknik Informatika. Dr. Eng. Niki Prastomo menjelaskan bahwa mahasiswa akan dilibatkan dalam menciptakan solusi teknologi yang kontekstual dengan kebutuhan di Lebak Selatan.
Keberlanjutan di Lapangan
Rektor UMN, Andrey Andoko, menekankan bahwa kunci dari mitigasi yang tangguh adalah sistem yang tidak hanya berbasis teknologi tinggi, tetapi juga berakar pada kebutuhan masyarakat.
Dengan perpanjangan MoU ini, kedua belah pihak berkomitmen untuk terus menciptakan sistem mitigasi yang inklusif di wilayah Bayah dan sekitarnya. Bagi mahasiswa, ini adalah laboratorium hidup; bagi warga Lebak Selatan, ini adalah jaminan keberlanjutan dukungan akademis untuk keselamatan mereka di masa depan.
Backgrounders
Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana. Setelah mendampingi Desa Panggarangan meraih status Tsunami Ready Community dari IOC–UNESCO, GMLS berencana melanjutkan program serupa di sejumlah desa pesisir lain di Lebak Selatan dalam waktu dekat.
Kontak Media
Steven Eduard
Media Relations Manager
Gugus Mitigasi Lebak Selatan
Telp. +62 852-6011-2525
Email: gugusmitigasibaksel@gmail.com
Share this Events
Villa Hejo Kiarapayung, Kp. Kiarapayung, RT 004 RW 004, Desa/Kec. Panggarangan, Kab. Lebak, Banten - 42392
Copyright 2025, GMLS. All Rights Reserved.